Tampilkan postingan dengan label Yulia Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Yulia Story. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Oktober 2017

Rekaman Sejarah

Rekaman sejarah


Tiap malam aku bangun setelah ketiduran pasca mengeloni 2 bocil bobo. Saat masih ada rasa kantuk dan kadang atau malah keseringan rasa malas menyelimuti tubuh dan mata ini. Ku buka laptop kususun beberapa buku dihadapanku dan tak lupa kacamata sebagai penunjang mata yang sudah berumur ini.


Tiap malam, ku pacu diriku agar terus bersemangat untuk menulis. Menulis apa saja.
Sejak SMP kelas 2, aku suka sekali menulis diary dibuku tentunya, sebelum ada yang namanya si kotak tipis berlayar datar ini.


Tiap malam apa saja aku kerjakan di laptopku. Semua yang kulakukan sudah aku jadwalkan sebelumnya. Agar aku sendiri punya motivasi untuk tidak malas-malasan atau membuang waktu percuma. Dari jadwal baca malam hari karena jadwal baca siang hari juga ada. Dan jadwal menulis.


Sejak menikah aku sudah mulai jarang menulis lagi. Memang ada beberapa tapi kebanyakan tidaknya. Dan sejak memutuskan homeschooling untuk pendidikan anak-anak ada semacam energi yang mendorong saya untuk selalu menuliskan apa saja yang kami lakukan baik itu di blog, di sosmed sebagai catatan kami sendiri.


Dan untuk menuliskan rangkaian kegiatan yang dijalani anak-anak tentu saya harus percaya diri untuk mempublish-nya ke publik.


Dan aku terus belajar untuk menuliskannya dengan baik.
Selain itu aku juga mengikuti kelas kuliah online yang membuka pikiran ku tentang apa yang selama ini tenggelam harus dimunculkan kembali. Harus punya kepercayaan diri untuk keluar dari zona nyaman. Kalo perlu harus berguru pada mentor-mentor yang memang sudah terbukti kepiawaiannya dalam menulis.


Dan proses belajar aku pun dimulai. Aku mulai mencari mentor-mentor di beberapa web. Mengunduh ebook yang mereka bagikan secara gratis, berlangganan emailnya dan praktek menulis. Sambil terus mengasah kemampuan menulis dengan benar dan baik, aku akan terus menambah jam terbang ku.


Mengulik aku minat menulisnya kemana, saya coba kembali ke zaman saya SMP, SMA dan saat aku bekerja.  aku masih mempunyai satu draf cerpen yang aku tulis tangan sewaktu aku masih bekerja disebuah Depstore. Saat itu aku menulisnya sambil  menjaga kasir.
Kemudian balik ke belakang lagi. Sewaktu SMA. Aku menemukan banyak koleksi puisi roman yang aku bikin kala itu…. ih malu membacanya kembali…..hiks.


Membaca dari beberapa jenis tulisan, aku liat  aku condong lebih enjoy menulis jenis deskripsi dan narasi. Dan dari semua tulisan ku mengenai kegiatan homeschooling anak-anak memang arahnya kebanyakan kesana.



Kenapa dulu aku tidak pernah mempublishnya padahal ada mading di sekolah. Karena ketidakpercayaan diri. Aku merasa kuper kala itu. disekolah kala itu aku termasuk yang kurang banyak bergaul atau bisa disebut kaum terpinggirkan. Karena status sosial yang membuat ketidakpedean tersebut begitu merenggut jati diri ku.


Tidak seperti sekarang. Sosmed tidak pandang apakah dia kuper, kudet, pendiam, pemalu pasti punya sosmed paling nga punya satu. Dan paling nga mereka bisa update status tanpa harus malu berhadapan dengan orang lain.


Keinginan menulis memang sudah lama ingin aku pelajari. Bertahun-tahun fakum dengan urusan dapur membuat impian dan keinginan itu seperti tenggelam.


Dan ditahun inilah keinginan untuk menulis lagi itu kembali muncul. Dimulai dengan sering menuliskan kegiatan anak-anak di sosmed dan blog. Dari sana aku coba mengasah kemampuan ku bercerita dengan alur yang baik.


Dengan menuliskan kegiatan anak-anak, aku sudah merekam sejarah anak-anak dan diri sendiri. Dan kenangan tersebut bisa mereka baca, lihat dan pelajari tentang mereka di masa kecilnya. Bukan hanya sekedar foto masa kecil tanpa ada cerita dibalik foto tersebut.



Aku sebagai orang tua tidak selamanya bisa mendampingi mereka. Kita tak tau ajal kapan datangnya. Yang aku  inginkan sebelum aku tutup usia aku bisa mewariskan sebuah kenangan atau rekaman tentang apa yang terjadi di masa mereka kecil bersama ki.
Akj ingin dikenang oleh anak-anak itu saja.
Kalo sekiranya pengalaman dan cerita kenangan kami bermanfaat buat orang lain itu adalah bonus dari Allah


Apa yang aku tulis sekarang memang belum menemukan benang merahnya. Belum mempunyai titik terang jenis tulisan apa yang ingin aku publishkan. Tapi dengan bercerita apa saja yang aku lalui, lakukan dan amati di sekitar ku dan bersama anak-anak melalui tulisan membuat akj kembali menghidupkan blog yang sudah lama ku miliki.

Berkaca dari pengalaman ku yang sejak kecil tidak punya kenangan manis bersama kedua orangtua. Malah yang banyak terekam adalah kenangan buruk bersama orang-orang disekitar ki.
Membuat aki terpicu memberikan sebuah rekaman sejarah untuk anak-anak ki ingat, kenang dan pelajari jika mereka dewasa nanti.

Semoga apapun yang aku tuliskan tentang mereka dan akj sendiri akan berguna buat mereka, anak-anak ku.



Yuliana
Banjarmasin, 19 Oktober 2017

Konmari Ala-ala

Pertama kali dengar mengenai konmari ini disalah satu grup wa. Setelah saya baca apa itu konmari method. Saya merasa gue banget nih. Dan saya sudah lama melakukannya. Memang tidak seperti persis seperti si ibu konmari ini.
Tapi untuk edisi ‘BUANG’nya saya memang sudah melakukannya setelah saya merasa barang-barang saya sudah terlalu banyak, jarang dipakai, sudah tidak update lagi, kekecilan, nga suka lagi dll.

Dulu saya termasuk emak-emak yang suka shopping baju, tas, sepatu atau apa saja yang saya liat di toko, mall dan pasar. Sekiranya saya suka saya beli.
Dan yang paling parah adalah saat saya membeli baju dan saya suka modelnya, saya akan membelinya dalam jumlah 1 seri. Kebayang kan berapa banyak tuh. Iya kalo Cuma 4 psc satu serinya, kalo 6 atau 12 pcs gimana coba….hitung aja deh duitnya berapa… pokoknya kayak orang mau jualan padahal saya nga punya bakat jualan.

Dan semua baju-baju tersebut nga semua sering kepake. Ada yang labelnya masih nempel, nga pernah kepake Cuma tersimpan di lemari doang.

Entah syaitan mana yang bikin mata saya kalap waktu liat baju-baju tersebut.

Dulu saya menganggap ini udah  kayak penyakit aja atau balas dendam. Apalagi pas online shop mulai bertebaran. Makin rajin deh ceki-ceki koleksi terbaru. Kalo suka langsung klik tambahkan ke keranjang.

Sampai akhirnya suami mengusulkan agar buka toko aja. Daripada beli tapi nga dipake. Beli yang saya suka terus dipajang, bisa diliatin sampai bosan ( ini nih kerjaan saya mandangi isi lemari bisa berjam-jam).. terus dijual kalo ada yang mau.

Akhirnya cara tersebut ampuh buat saya. Saya jadi tambah tersalurkan keinginan beli baju-bajunya dan punya lemari besar alias pajangan ditoko jafi bisa pandangin terus deh, hehe…..

Namun saya juga tidak kecewa kalo baju yang saya suka juga disukai orang lain dan dibeli.

Dan ternyata saya tau apa yang salah dengan diri saya. Saya hanya suka belanja baju, liat baju itu, memiliki sebentar (meski nga memakainya), udah bosan liatnya, bisa dijual, uang kembali deh..beli lagi…hihi

Alhamdulillah usaha toko yang dari menyalurkan hobby belanja tadi bertahan 4 tahun. Ditutup karena saya harus pindah kota aja.

Mengenai memanage barang-barang rumah sesuai dengan katagorinya dan menyusunnya dengan rapi. Saya memang menyukai melakukan ini semua dari dulu. Saya memang suka memindahkan perabot rumah (aslinya cepet bosan dengan tata letak perabot). Suka menyusun perkakas rumah sesuai katagorinya. Senang mengatur apa saja yang ada dirumah dengan berbagai katagori.

Jadi kangen pengen mengatur rumah sendiri lagi (sekarang masih numpang lagi ke rumah ortu).

Moga diijabah secepatnya.


Yuliana
Banjarmasin, 19 Oktober 2017

Sabtu, 14 Oktober 2017

BARU DI LUAR ISTIMEWA DI DALAM

Baru diluar istimewa di dalam


Betapa dalam makna dari kalimat dikemasan salah satu produk sampo yang kulihat siang ini. Sampo yang baru beberapa hari yang lalu dibelikan suami.

Kalimat ini sangat cocok buat saya dalam proses dan menuju progres hijrah.

Saya mengawali hijrah dengan hijrah pakaian dulu.
Sejak 2007 saya memulai benar-benar menggunakan hijab tanpa lepas pasang lagi itu setelah selesai kuliah dan sudah menikah pula.

Saat itu masih belum tau banyak tapi yang saya pernah baca bahwa seorang muslimah itu wajib hukumnya menutup aurat dan menggunakan hijab. Namun memang hijab yang kala itu saya gunakan masih bergenre ‘ngikut tren’.
Seperti masih suka gonta-ganti model hijab yang ala-ala toturial gituh…..aih jadi malu ingat jaman-jaman itu. sampai pernah beli majalahnya cinn…hedeh hedeh…dasar mahmud ngikut aje orang pakai apa…

Terus berangsur menggunakan pakaian syarii meski masih suka update model, corak, motif dan warna terang. Berasa nga abdol lah kalo nga punya nyang ngono..yang ngene….. beli baju iya.. beli emas ogah…emang style orang nga mikir masa depan nih..

Dan bersyukur Allah begitu sayang pada saya. Hijrah saya ke luar pulau membawa perubahan dalam segala hal. Terutama tentang apa yang saya pakai.
Saya pun mulai berangsur mengganti pakaian bercorak penuh warna itu dengan warna gelap dan tak menyolok perhatian.

Setelah hijrah pakaian alias baru diluar. Saya pun harus mengimbanginya dengan ilmu. Benar kata orang hidayah itu bukan ditunggu tapi dicari. Dalam pencarian saya untuk memperdalam agama. Banyak hal yang saya pelajari. Dan makin banyak yang saya pelajari makin terasa miskin sekali ilmu yang saya ketahui selama ini.

Dan alhamdulillahnya lagi. Saya menemukan cara belajar dan manhaj yang sesuai dengan al quran dan hadist yang memang saya cari selama ini.

Membuat istimewa didalam itu memang butuh kerja keras dan usaha ekstra. Keinginan belajar dan semangat berguru pada yang memang ahlinya adalah usaha saya untuk menjadi istimewa di hadapan Allah.

Sambil terus memperbaiki diri, selain memperbaiki penampilan agar lebih tak menyolok, lebih tak nampak, lebih tak menjadi pusat perhatian, lebih tak menggoda mata para ajnabi. Selalu mengajak mahrom jika bepergian keluar rumah. Dan melaksanakan apa yang diajarkan Al quran akan penampilan sesuai syariat islam.

Dan juga terus memperbaiki adab, akhlak dan kesantunan dalam bersikap, bertingkah, bertutur kata, menjaga silaturahim, menghindari ghibah, selalu khusnuzon, dan menebar kebaikan serta bisa bermanfaat buat orang sekitar.

Perjalanan menuju lebih baik memang tidak lah mulus.. Namun saya akan terus menjalani perjalanan tersebut dengan selalu berusaha ikhlas. Dan selalu meminta Allah agar terus memberikan keleluasan waktu, hati dan keistiqomahan niat.





Banjarmasin, 14 Oktober 2017
Yuliana

Jumat, 13 Oktober 2017

Waktu Sia-sia

#Waktu sia-sia
#odowop

By Yuliana

Pernah nga kita merasa kalo kita sedang menyia-nyiakan waktu? Menyia-nyiakan tiap detik yang kita lalui. Tau-tau sehari berlalu, seminggu….sebulan..akhirnya setahun..dan bertahun-tahun. Hanya melakukan aktivitas itu-itu saja. Aktivitas yang sebenarnya bisa kita hilangkan karena manfaatnya tak banyak kecuali kita memperoleh keuntungan finansial dari kegiatan tersebut atau menambah pengetahuan kita menjadi pribadi lebih baik dan lebih bijak.

Pernah nga kita berpikir saat menonton tv, melihat berbagai tayangan sinetron, drama lebay, panggung nyanyi, pencarian bakat dan seterusnya. Bahwa kita ini hanya bisa menjadi penonton?  Penonton yang tak dibayar pula….heleh-heleh…malah berbagai masalah bermunculan ; dari anak yang nga keurus, rumah amburadul, suami yang tak terlayani dengan baik, lupa jemput anak, lupa matiin kompor, lupa kalo gas habis, lupa beli token listrik, dan lain-lain?

Katanya tv dan gadget adalah hiburan, biar nga sumpek, stress berlebihan atau ngisi waktu doang. Yang ada malah akan tambah puyeng liat iklan menggiurkan berseliweran di layar datarnya…yang nga minta jadi minat, yang nga mau beli jadi beli, yang nga perlu jadi hunting….ini kan bisa nambah runyam stabilitas perekonomian rumah tangga.

Padahal yang membuat semua tayangan diatas, setiap detik mereka selalu berpikir keras untuk bisa menghasilkan tontonan yang kreatif, menghibur dan inovatif.
Sedangkan kita hanya bisa gigit jari, mengagumi, memuja, tersepona cie..cie.. dan akhirnya memfollow..nonton lagi…nonton lagi.. sampai mata sepet. Yang semuanya itu hanya hiburan belaka tipuan dunia.

Ada sih tayangan yang mengedukasi penontonnya namun nga sebanding dengan tayangan nga mutu lainnya,

1 jam, 2 jam duduk depan tv menyaksikan ragam acara yang nga ada manfaatnya buat kita, yang ada malah tergoda dan berkhayal, seandainya…oh…seandainya, kan jadi nambah dosa!, Nauzubillah.

Jalani hidup yang sementara ini lebih berguna. Lebih bisa bermanfaat buat orang banyak. Lebih menghasilkan nilai plus kita di hadapan Allah.

Coba tanya, lebih lamaan mana duduk di depan tv dan pantengin gadget daripada baca buku, ngaji atau duduk dimajelis?

Tanya lagi, lebih seringan mana, buka sosmed daripada buka buku bacaan, baca buku kajian, baca artikel dakwah dan video tausiyah?

Sebenarnya tv dan gadget bisa menambah wawasan, pengetahuan dan ilmu kita apabila kita bisa mengaturnya dengan bijak.

Banyak sudah para orangtua yang sudah tersadar akan bahaya menonton tv buat anak-anak mereka. Tv mengambil waktu berharga kita bersama keluarga. Kita memang mungkin sering ngumpul tapi depan tv doang… kan jadi nga bisa fokus apabila mau membangun komunikasi positif, mengadakan forum keluarga, atau sekedar mendengarkan cerita anak-anak kita.

Upgrade diri kita dari sekedar menjadi penonton dan pengguna menjadi founder dan pelaku.
Hidup kita tak lama
Nikmati anugerah hidup yang diberikan Allah
Syukuri segala nikmat yang masih kita miliki
Jadilah berguna untuk orang sekitar
Dan jadilah hamba dan manusia terbaik di sisi NYA.

Banjarmasin, 9 Oktober 2017

Berdoa Saja

#Berdoa saja
#odowop

Apa tugas seorang istri? Menjadi babysitter, chef, laundry servises, financial controller, housekeeper, driver for kids, teacher, fasilitator, dokter pribadi, dan semua urusan domestik lainnya yang tidak semua tertulis di sebuah perjanjian pernikahan atau dibuku nikah.

Terus apa kewajiban seorang istri? Taat pada suami dan mencari ridho suami pula. Inilah yang terberat. Apapun yang kita lakukan haruslah bercermin pada keridhoan suami karena seorang istri merupakan tanggungan seorang suami sampai ke akhirat nanti.

Dan sebagai seorang istri yang fulltime mom, tidak bekerja diranah publik, tidak menghasilkan uang. Tugas saya lainnya juga memastikan anak-anak terpenuhi kebutuhan akan pendidikan karena seorang istri adalah madrasatul ula pertama untuk anak-anaknya. Memastikan mereka terpenuhi akan agama, aqidah, adab serta kebutuhan psikis mereka.

Selama suami berada jauh disana dan kadang miskin sinyal. Saya harus pinter-pinter mengatur segalanya sendiri; mengatur waktu untuk diri saya pribadi, mengatur kebutuhan anak-anak, mengatur peran ( baik sebagai istri, ibu, fasilitator, teman, murid yang sedang belajar dan sebagai anak pula).

Namun ada satu lagi tugas yang diamanahkan suami pada saya, yaitu berdoa. Ya…berdoa merupakan hal terpenting yang harus saya lakukan setiap saat. Dan suami selalu menyelipkan disetiap pesannya. Tentu saja doa yang penuh keikhlasan dan kepasrahan agar apa yang kami lewati sekarang segera bisa teratasi dengan baik.

Banjarmasin, 10 oktober 2017
Yuliana

Mencari Teman Homeschooling

#Mencari Teman Homeschooling

By Yuliana

Mengambil pilihan homeschooling memang sudah kujalani sejak kurang lebih 4 tahun yang lalu. Menjalani homeschooling mandiri memang penuh tantangan baik dari diri sendiri, anak, pasangan hidup , orangtua dan keluarga besar serta lingkungan.

Memilih sesuatu yang masih terasa asing dan condong ke ekstrem untuk wilayah tempat tinggal ku memang bisa dibilang aneh.

Mencari teman seperjuangan juga nga gampang. Ada yang minat dengan homeschooling namun usia anak-anaknya belum bisa dikatakan usia anak homeschooling karena anak homeschooling itu usia 6 tahun ke atas (kalo usia dibawah itu memang nga wajib sekolah).

Apalagi mencari teman se-visi dan se-misi, suseh banget. Karena setiap keluarga homeschooling memang beda visi dan misinya.

Berjejaring untuk mencari 1, 2 orang teman mungkin nemu tapi kendala di waktu masing-masing untuk mengadakan playdate bersama. Belum lagi jika sama-sama pengen menjadi peserta aja bukan yang bertangungjawab dan memiliki ide.

Ya mungkin bukan salah mereka. Salahnya karena homeschooling memang belum familiar untuk semua orang, apalagi tambah ada lembaga-lembaga yang mencantumkan homeschooling dibrand mereka.tambah ranculah pengertian homechoolingnya.

Ini baru mencari teman yang juga tertarik homeschooling.

Belum lagi mencari teman yang mau berkecimpung bareng membangun komunitas, berani keluar zona nyaman demi belajar anak-anak seperti para praktisi homeschooling di luar pulau sana.

Yang namanya juga hal baru mungkin pikir mereka.

Sebenanya homeschooling bukanlah hal baru. Ini sudah ada sejak lama. Cuma memang bahasanya dan penyebutannya aja berbeda.

Mungkin peminat homeschooling menganggap mereka masih newbie jadi belum pede mengusulkan kegiatan, memanage kegiatan dan lain lain. Sehingga kebanyakan hanya jadi peserta ikut-ikutan. Padahal homeschooling itu bukan hanya teorinya saja yang diketahui namun actionnya yang diutamakan.

Mungkin pula alasan waktu, kemandirian orangtuanya,dan  ketakutan keluar dari zona nyamanlah yang menghalangi.

Kalo kita selalu melihat kegiatan homeschooling diluar sana terus kita menjadi minder, kita akan terus jalan di tempat dan akhirnya memilih menjadi penonton doang.

Apalagi kalo usia anaknya dibawah 6 tahun. Karena minder akhirnya niat homeschooling hanya tinggal niat terus menguap…mentoknya ya daftarin sekolah aja deh…

Orangtua homeschooling itu nga boleh males, nga boleh minder, nga boleh mati gaya, nga boleh hanya jadi penonton. Karena anak-anak kita akan mempelajari bagaimana kita belajar menghadapi segala situasi.

Kalo nga mau keluar dari zona nyamannya, ya monggo sekolahin aja anak-anaknya terus orangtuanya leha-leha sambil sosmed-an, kelar deh….!!

Ortu homeschooling itu harus berani
Berani beda, berani menghadapi segala kemungkinan, berani terjun, berani berkreasi…

Banjarmasin, 9 Okober 2017

Refleksi Menulis Ku

#Refleksi caraku menulis

Hari ini tepat 21 hari tantangan menulis yang saya buat pribadi. Menulis memang sudah saya sukai sejak SMP. Saya rutin menulis diary sejak SMP tepatnya tanggal 17 Februari 1994 menurut catatan buku diary saya yang masih rapi tersimpan. Saya juga suka bikin puisi sampai saya bekerja.

Dulu, Saya juga sempat bikin sebuah draf cerpen namun tak pernah selesai karena mungkin saat itu menulis bukanlah prioritas buat saya (drafnya masih saya simpan).

Saat itu memang belum ada komputer seperti sekarang. Semua ditulis tangan. Kadang saya menulis di belakang buku sampai saya pernah juga menulis dikertas daur ulang untuk bungkus baju pelanggan di toko tempat saya bekerja. Pokoknya nga bisa liat kertas nganggur deh…pengen corat-coret aja bawaannya..hehe..he

Saya ingat betul. Sewaktu SMP kelas 2 saya belajar mengetik menggunakan mesin tik konvensional. Kebayang nga mengetik dengan keberisikan dari alat tersebut. Belum lagi ke-riweh-an penggantian tinta yang sering bikin belepotan tangan dan jadi ilfil untuk megang mesin ketik lagi.
Tapi sejauh itu, saya termasuk yang jatuh cinta dengan teknik mengetiknya. Saat itu guru pengajar pelajaran mengetik sangat disiplin dengan praktek 10 jari. Kebayang nga, mengetik dengan tuts nya blank alias nga ada hurufnya hanya warna saja sebagai penanda. Terus ujian ngetiknya dengan tutup mata pula. Bikin dag dik dug serrr…... deh

Ditambah lagi begitu susahnya kalo mau latihan ngetik saat itu karena jaman itu mesin ketik cuman ada dikantor-kantor doang dan termasuk benda eksklusif. Jadinya nga semua orang punya sehingga untuk bisa mempraktekkan teknik mengetik lancar 10 jari tanpa melihat apalagi tanpa salah ketik itu terasa mustahil.

Ada lagi yang menjengkelkan saat mengetik pakai mesin tik waktu itu. Kalo nga kuat jarinya maka hasil ketikan nga jelas, terlalu kenceng menekan tuts bisa tembus tuh kertas jelas harus ngulang lagi. Dan kertasnya nga kayak sekarang berwarna putih bok…. Burem gitu itupun harus hemat nga boleh sering salah.
Terus  kalo nga stabil ngetiknya bisa loncat-loncat hurufnya, belum lagi kalo nga pas naroh jari di tuts.. bisa ‘terpelosok’ jari ke dalam mesin…atit tau….

Dan karena semua hal tersebut saya akhirnya menikmati semua prosesnya sebagai bagian dari pengalaman dari perjalanan belajar mengetik saya.

Kembali ke menulis. Selama 21 hari ini, Saya mulai terbiasa untuk belajar peka terhadap sekitar dan menuangkannya ke dalam tulisan. Mungkin belum sampai berlembar-lembar namun ini adalah awal yang baik buat saya.

Konsisten yang terpenting itu kata pakar menulis. Menulislah yang banyak jadikan menulis itu habit maka dengan berjalannya waktu akan menjadi kebiasaan yang akan mengasah keterampilan kita dalam menulis.

Dan buat tujuan sehingga menguatkan kita saat kondisi kita sedang enggan menulis.

Buat saya pribadi, menulis adalah cara saya berkomunikasi dengan anak-anak tentang apa yang terjadi sejak mereka sebelum lahir sampai mereka dewasa nanti.

Apa yang saya tulis bisa bermanfaat terutama buat mereka. Bisa merangkai kepingan memori masa kecil mereka bersama saya. Agar histori kami tidak berlalu begitu saja tanpa makna.

Menuliskan apa saja yang kami lewati sebagai portofolio pribadi kami, menulis apa yang saya rasakan, pikirkan dan lewati adalah cara saya menyampaikan runutan peristiwa yang memang harus kami kenang suatu hari nanti sebagai pembelajaran, sebagai referensi dan sebagai guru yang berharga.

Sedangkan yang saya pelajari dari artikel-artikel penulisan. Saya tipikal suka menulis deskripsi dan narasi. Saya begitu mengalir jika menuliskan dengan cara penulisan kedua jenis menulis tersebut. terutama jika berhubungan dengan anak dan pembelajaran mereka.

Namun jika menuliskan seperti isi pikiran, pendapat pribadi atau global seperti argumentasi, persuasi masih perlu pengasahan dan jam terbang lebih lagi.

Kadang setiap saya menulis, saya coba bacakan hasil tulisan saya ke anak dan suami. Sehingga mereka bisa mengoreksi akuransi cerita yang saya tulis. Dan feedback dari tulisan tersebut versi mereka.

Setelah 21 hari menulis ini. Ada bagian dari otak saya yang merasa haus akan bahan bacaan. Memang bahan bacaan alias buku sangat jarang ada dirumah. Semua buku-buku saya yang belum sempat dibaca masih banyak  tertinggal di depok. Dan untuk beli lagi. Keuangan kami masih belum bisa mengcover pengeluaran ini.

Saya sempat berpikir begini, kok bisa para emak-emak itu bisa sempat menulis. Menurut pengalaman mereka, mereka menulis saat anak-anak tidur. Saya juga mempraktekkannya begitu. Namun kadang ngantuk itu sangat menggoda untuk ikut terlelap bersama anak-anak.
Atau kadang baru satu-dua halaman sudah sepet matanya melihat layar dengan pencahayaan minim.

Sebenarnya saya lebih suka mengetik di siang hari dan seringnya ide-ide menulis itu datangnya siang hari namun aktivitas saya bersama ke 3 anak yang semuanya homechooling sangat menyita waktu saya. Apalagi yang kecil yang jarang sekali tidur lama. Kalopun lama harus selalu standby di depan ayunannya. Kebayang nga tangan satu ngetik, tangan lainnya sedang mengayun.. nga lancar deh runutan kata-katanya keluar, nga selaras kecepatannya dengan ketikan jari.

Tapi ada juga bunda homeschooling yang anak-nya banyak namun tetep sempat menulis. Pengen deh.. tetap bisa konsisten.

Semoga ghirah ini terus ada didalam hati dan pikiran saya. Membiasakan suatu kebiasaan yang saya sukai adalah memantik diri untuk sebuah keberhasilan suatu hari nanti.

Kota seribu sungai, 13 Oktober 2017
yuliana

Waktu Sia-sia

#Waktu sia-sia
#odowop

By Yuliana

Pernah nga kita merasa kalo kita sedang menyia-nyiakan waktu? Menyia-nyiakan tiap detik yang kita lalui. Tau-tau sehari berlalu, seminggu….sebulan..akhirnya setahun..dan bertahun-tahun. Hanya melakukan aktivitas itu-itu saja. Aktivitas yang sebenarnya bisa kita hilangkan karena manfaatnya tak banyak kecuali kita memperoleh keuntungan finansial dari kegiatan tersebut atau menambah pengetahuan kita menjadi pribadi lebih baik dan lebih bijak.

Pernah nga kita berpikir saat menonton tv, melihat berbagai tayangan sinetron, drama lebay, panggung nyanyi, pencarian bakat dan seterusnya. Bahwa kita ini hanya bisa menjadi penonton?  Penonton yang tak dibayar pula….heleh-heleh…malah berbagai masalah bermunculan ; dari anak yang nga keurus, rumah amburadul, suami yang tak terlayani dengan baik, lupa jemput anak, lupa matiin kompor, lupa kalo gas habis, lupa beli token listrik, dan lain-lain?

Katanya tv dan gadget adalah hiburan, biar nga sumpek, stress berlebihan atau ngisi waktu doang. Yang ada malah akan tambah puyeng liat iklan menggiurkan berseliweran di layar datarnya…yang nga minta jadi minat, yang nga mau beli jadi beli, yang nga perlu jadi hunting….ini kan bisa nambah runyam stabilitas perekonomian rumah tangga.

Padahal yang membuat semua tayangan diatas, setiap detik mereka selalu berpikir keras untuk bisa menghasilkan tontonan yang kreatif, menghibur dan inovatif.
Sedangkan kita hanya bisa gigit jari, mengagumi, memuja, tersepona cie..cie.. dan akhirnya memfollow..nonton lagi…nonton lagi.. sampai mata sepet. Yang semuanya itu hanya hiburan belaka tipuan dunia.

Ada sih tayangan yang mengedukasi penontonnya namun nga sebanding dengan tayangan nga mutu lainnya,

1 jam, 2 jam duduk depan tv menyaksikan ragam acara yang nga ada manfaatnya buat kita, yang ada malah tergoda dan berkhayal, seandainya…oh…seandainya, kan jadi nambah dosa!, Nauzubillah.

Jalani hidup yang sementara ini lebih berguna. Lebih bisa bermanfaat buat orang banyak. Lebih menghasilkan nilai plus kita di hadapan Allah.

Coba tanya, lebih lamaan mana duduk di depan tv dan pantengin gadget daripada baca buku, ngaji atau duduk dimajelis?

Tanya lagi, lebih seringan mana, buka sosmed daripada buka buku bacaan, baca buku kajian, baca artikel dakwah dan video tausiyah?

Sebenarnya tv dan gadget bisa menambah wawasan, pengetahuan dan ilmu kita apabila kita bisa mengaturnya dengan bijak.

Banyak sudah para orangtua yang sudah tersadar akan bahaya menonton tv buat anak-anak mereka. Tv mengambil waktu berharga kita bersama keluarga. Kita memang mungkin sering ngumpul tapi depan tv doang… kan jadi nga bisa fokus apabila mau membangun komunikasi positif, mengadakan forum keluarga, atau sekedar mendengarkan cerita anak-anak kita.

Upgrade diri kita dari sekedar menjadi penonton dan pengguna menjadi founder dan pelaku.
Hidup kita tak lama
Nikmati anugerah hidup yang diberikan Allah
Syukuri segala nikmat yang masih kita miliki
Jadilah berguna untuk orang sekitar
Dan jadilah hamba dan manusia terbaik di sisi NYA.

Banjarmasin, 9 Oktober 2017

Berdoa Saja

#Berdoa saja
#odowop

Apa tugas seorang istri? Menjadi babysitter, chef, laundry servises, financial controller, housekeeper, driver for kids, teacher, fasilitator, dokter pribadi, dan semua urusan domestik lainnya yang tidak semua tertulis di sebuah perjanjian pernikahan atau dibuku nikah.

Terus apa kewajiban seorang istri? Taat pada suami dan mencari ridho suami pula. Inilah yang terberat. Apapun yang kita lakukan haruslah bercermin pada keridhoan suami karena seorang istri merupakan tanggungan seorang suami sampai ke akhirat nanti.

Dan sebagai seorang istri yang fulltime mom, tidak bekerja diranah publik, tidak menghasilkan uang. Tugas saya lainnya juga memastikan anak-anak terpenuhi kebutuhan akan pendidikan karena seorang istri adalah madrasatul ula pertama untuk anak-anaknya. Memastikan mereka terpenuhi akan agama, aqidah, adab serta kebutuhan psikis mereka.

Selama suami berada jauh disana dan kadang miskin sinyal. Saya harus pinter-pinter mengatur segalanya sendiri; mengatur waktu untuk diri saya pribadi, mengatur kebutuhan anak-anak, mengatur peran ( baik sebagai istri, ibu, fasilitator, teman, murid yang sedang belajar dan sebagai anak pula).

Namun ada satu lagi tugas yang diamanahkan suami pada saya, yaitu berdoa. Ya…berdoa merupakan hal terpenting yang harus saya lakukan setiap saat. Dan suami selalu menyelipkan disetiap pesannya. Tentu saja doa yang penuh keikhlasan dan kepasrahan agar apa yang kami lewati sekarang segera bisa teratasi dengan baik.

Banjarmasin, 10 oktober 2017
Yuliana

Bahagia

#Bahagia
#odowop

Bahagia…kata ini begitu teduh terdengar dan begitu dalam maknanya. Bahagia adalah sesuatu yang dicari oleh setiap orang dengan berbagai cara. Tergantung mereka melihat arti bahagia itu seperti apa.

Jika pertanyaan bahagia itu seperti apa dan pertanyaan ini ditujukan pada saya maka hari ini saya baru mengetahui apa yang membuat anak sulung saya merasa disayang oleh aminya saat seperti apa atau bagaimana? Jawaban sederhana yang diberikannya tadi siang membuat saya sangat bahagia mengetahuinya.

Bahagia saat merasa disayangi itulah yang terpenting buat siapapun termasuk anak-anak.

Bahagia versi saya mungkin bisa berbeda dengan orang lain. Buat saya pribadi bahagia itu saat anak-anak berebut memeluk dan mencium saya setiap hari. Saat mereka dengan polosnya bercerita apa saja mengenai apa yang mereka rasakan, lakukan dan lewati hari itu kepada saya. Dan bisa memberikan sepenuhnya waktu berharga saya buat mereka.

Bahagia itu bisa diraih namun yang terpenting bahagia itu bisa kita ciptakan.

Ciptakan bahagiamu hari ini
Ciptakan bahagiamu maka sekitarmu pun akan menangkap sinyal tersebut

Bahagia itu bisa mahal namun bisa juga tanpa modal
Bahagia itu dengan selalu bersyukur
Bersyukur berterimakasih dan berbagi

Banjarmasin, 11 Oktober 2017
Yuliana

Sabtu, 07 Oktober 2017

Aurat dan Rasa Malu

#Aurat dan Rasa Malu
#odowop
#part2

Akhirnya pekerjaan emak sampai jam 19.30 selesai. Alhamdulillah 2 bocil sudah bobo. Emak pun sudah mempersiapkan alat tempur di dekat tempat tidur jika de fayyas bangun nanti (* baca: susu, termos, air dingin dll).

Sebuah buku besar tempat emak mencurahkan isi kepala siang tadi pun sudah dibuka meski begitu banyak hasil kreasi fayyas ada juga diatas tulisan saya tersebut.  Jadinya harus baca pelan-pelan nih. Kertas oretan yang berisi nama surah juga udah disamping. Buka laptop, pasang kacamata, silent hape dulu dan mulai mengeluarkan rangkaian kata-kata yang seharian gatal tangan ini pengen menyalinnya.



Melihat dari kejadian kemaren. Saya kembali teringat sebuah tulisan dari pakar parenting kawakan mengenai pendidikan sex (sex education) sejak dini. Melatih, mencontohkan dan membiasakan anak-anak mengenal tubuh mereka, memang butuh tauladan dan kesabaran dari kita orangtuanya. Terutama daerah paling berharga ( karena mereka memang berharga) yang kita sebut bagian dari aurat.

Di dalam al quran sangat jelas bahwa kita harus menahan pandangan dan memelihara kemaluan ( an Nur:30).

Jika sedari kecil, anak-anak tidak diperkenalkan secara terus menerus mengenai batasan aurat yang boleh atau tidak boleh dilihat, disentuh, diraba dan dipegang maka anak-anak akan terbiasa atau merasa tidak malu, tidak risih apalagi merasa bersalah dan berdosa memperlihatkan bagian tubuhnya kepada orang lain.

Rasa malu ini harus ditanamkan ke anak-anak agar selalu menutup auratnya apabila keluar rumah, sedang bermain, sedang berteman dan lainnya. Dan jika sudah tertanam rasa malu pada diri mereka maka anak-anak akan berani mengatakan TIDAK apabila ada orang lain yang membully mereka diluar sana. Juga tak segan bercerita kepada kita apabila mereka menerima ajakan dari orang lain atau teman-temannya untuk memeperlihatkan bagian tubuhnya apalagi jika sampai diabadikan lewat foto atau video.

Begitu gencarnya media tv, internet dan media lainnya serta lingkungan sekitar, atau malah kita sendiri selaku orang tuanya mempertontonkan aurat secara serampangan sehingga anak-anak/generasi sekarang merasa itulah batasan wajar. Bahwa itu sudah biasa aja tuh…, orang lain juga begitu sehingga terjadi pemakluman yang membingungkan mereka.

Menutup aurat adalah kewajiban baik laki-laki maupun perempuan dengan batasan yang sudah dijelaskan dalam Al Qur’an (QS Al Ahzab:59 , An Nur :31, Al Ahzab :53, Al Ahzab :33, An Nur :60).

Apabila kita sejak dini sudah melatih, membiasakan anak-anak kita menjaga tubuh mereka sendiri dan mengetahui mengenai batas auratnya maka tidak ada kejadian yang memalukan seperti kemaren.

Mereka memang anak-anak dan yang bersalah tentulah kita sebagai orang dewasa atau orangtuanya.

Kurang memberikan waktu khusus dengan anak, kurang berkomunikasi dengan anak , dengan alasan karena kesibukan mencari nafkah sehingga pengawasan kita lemah. Apalagi ditambah kita memfasilitasi mereka dengan gadget yang tak terproteksi karena kurangnya pengetahuan kita tentang hal tersebut. mereka diberikan gadget sejak dini dengan harapan mereka ‘anteng dan diam di rumah saja’ sehingga kita pun merasa damai melakukan aktivitas kita.

latih anak-anak kita untuk mengenal tubuh mereka yang berharga
latih mana anggota tubuhnya yang boleh disentuh, dipegang, diraba oleh orang lain
latih anak-anak kita untuk selalu menutup aurat dengan benar tiap kali keluar rumah sesuai syariat
latih anak-anak kita untuk menjaga pandangan dari hal –hal yang tidak boleh mereka lihat.
Latih anak-anak kita untuk bilang TIDAK  jika di menerima perlakuan yang membuatnya tidak nyaman.
Pisahkan tidur antara anak laki-laki dan perempuan diatas 10 tahun.

Selamatkan anak-anak kita
Terus lah berdoa agar Allah selalu menjaga buah hati kita.

Yuliana
Banjarmasin, 7 oktober 2017

Jumat, 06 Oktober 2017

No Gadget For Kids

#No Gadget For Kids
#odowop
#part 1

Ada seorang bocah usia 10 tahunan cengar-cengir menceritakan keluguannya saat diminta teman-temannya untuk memperagakan sebuah adegan yang sebenarnya tidak layak diunggah ke youtube. Dia tidak mengerti sepenuhnya akan bahaya atau dampak kedepannya untuk dia pribadi. Yang dia tahu hanya apa yang dilakukannya bersama teman-temannya hanya untuk bersenang-senang karena terinspirasi dari tontonan yang kurang lebih sama seperti itu.

Lucu mungkin pikir mereka membuat rekaman video kemudian di unggah di dunia maya. Atau mungkin bangga karena menjadi pemeran utamanya atau video mereka bisa diliat banyak orang.

Ini nih yang diperjuangkan oleh banyak ahli parenting yang peduli terhadap bahaya gadget ke perilaku anak-anak. Karena diusia dini mereka sudah diberikan ruang dan difasilitasi untuk menggunakan gadget tanpa diawasi apalagi difilter agar tidak bisa mengakses konten-konten yang bisa menyesatkan dan menjerumuskan mereka menjadi candu, korban dan akhirnya menjadi pelaku.

Orangtua sekarang ada yang merasa bangga jika anaknya bisa berselancar di gadget mereka. Merasa bangga karena anaknya juga punya gadget seperti teman lainnya, Merasa bangga kalo anaknya sudah familiar dengan fasilitas yang ada di gadget mereka tanpa tau apa yang dilihat, ditonton, diunggah dan diunduh oleh anak-anak mereka. Malah yang paling parah. Ada orangtua yang tidak bisa mengecek/memeriksa gadget anaknya dengan alasan tidak mengerti bagaimana mengoperasikannya.

Internet sejatinya memang tidak perlu buat mereka sebelum mereka berusia 14 tahun. Kecuali dengan pengawasan kita atau kita bisa memfilter apa yang bisa ataupun tidak untuk mereka. Jangan sampai menyesal kemudian. Anak-anak jadi kecanduan, ada  bagian otaknya rusak karena sudah sering terpapar konten yang menyesatkan dan ini akan butuh biaya dan waktu untuk memulihkannya lebih mahal dari harga gadget itu sendiri.

Anak-anak dibawah usia 14 tahun masih belum bisa memilah mana yang baik dan buruk, mana yang salah atau benar. Mereka belum paham.
Apalagi jika kita sebagai orangtua tak memberikan informasi dan batasan mengenai aturan berselancar diinternet dengan bijak.

Maka yang ada anak-anak akan mencari tau sendiri dengan cara mereka. Dan itu pasti ada ‘harganya’.

Yuliana
Banjarmasin, 6 oktober 2017

Rabu, 04 Oktober 2017

Diakhiri Dengan Yang Manis

#Diakhiri dengan yang Manis

Tetiba pandangan mataku tertuju ke salah satu pojok warung di pertigaan sebelum mengantar abang Daffa TPA. Disana aku baca sebuah slogan susu kental manis. Disana tertulis  ‘DIAKHIRI DENGAN YANG MANIS’

Kalimat ini mengelitik saya sepanjang perjalanan sesambil mulut saya komat kamit mencoba merangkai kata-kata untuk menemukan sebuah ide tulisan agar tema ini mampu mengikat sebuah makna.

Sesuatu yang berakhir manis…..aku pun mencoba menilik memori di otak. Apakah ada sebuah peristiwa dalam hidupku yang berakhir manis? Rasa-rasanya hampir tidak ada atau aku sudah lupa atau memang berusaha menutup sebuah memoar masa lalu, entahlah…..

Kembali ke slogan tersebut yang penuh provokatif. Mengajak pembacanya agar menikmati produknya yang tentu saja mempunyai rasa yang pasti manis.
Tentu saja hasil penjualan mereka tumbuh pesat meskipun tanpa slogan tersebut.

Namun kalo boleh membandingkan kalimat tersebut sangat kontras dengan kehidupan sehari-hari. Kebanyakan kita jika mengakhiri/ diakhiri apa saja atau siapa saja pasti akan menimbulkan sakit hati, sedih, marah, benci, dendam dan hal negatif lainnya.

Meski mungkin ada juga yang mampu memetik hikmah akan sebuah peritiwa berakhirnya dengan penuh syukur yang tentu saja berbuah manis.

Semoga kita selalu mampu membaca hikmah akan apa saja yang terjadi dikehidupan kita. Dan itu semua membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik dan tentu saja lebih manis.

Kitalah yang membuat hidup ini manis atau biasa-biasa saja.

Berdoalah dan jangan lupa terus semangat mengikat makna kehidupan ini.

Yuliana
Banjarmasin, 4 Oktober 2017

Selamat Hari Guru Sedunia

#Hari Guru Sedunia
#odowop

Guru… kata ini maknanya begitu luas, begitu dalam, dan begitu multi arti.
Guru bukan hanya mengajar di kelas formal, informal dan nonformal namun guru dapat berupa pengalaman berharga dan penuh hikmah, ujian nan memilukan, kemudahan dan juga nikmat tiada tara.

Apapun pelajaran yang kita terima dari seseorang atau sesuatu juga bisa dikatakan itulah guru kita.

Guru yang baik dan guru ‘killer’ versi kita, semuanya adalah pengalaman berharga di kehidupan kita baik dulu, sekarang maupun yang akan datang.

Untukmu guru-guruku,
Karena engkaulah aku seperti sekarang dan yang akan datang
Apapun dan siapapun engkau terimakasih tak terhingga atas jasa-jasamu

Terimakasih untuk guru SD ku, yang karena engkau aku pernah menyukai math
Terimakasih pula untuk walikelas SD ku karena engkau aku menyukai English sampai hari ini.

Dan tak lupa terimakasihku untuk anak-anakku kalianlah guru terbaikku

Dan yang terpenting dari semuanya
Aku bersyukur bahwa Al Qur’an dan Hadist adalah guru terlengkapku
Aku bersyukur pula Rasulullah adalah guru tauladanku
Dan selalu bersyukur karena Allah adalah SANG MAHA GURU.

Selamat Hari Guru Sedunia.

Yuliana
Banjarmasin, 5 Oktober 2017

Selasa, 03 Oktober 2017

Malu Ku Pada Rabb Ku

#September

September telah berlalu namun usiaku semakin berkurang
Saat ucapan-ucapan handai taulan kuterima
Sebagai pengingat bahwa kematian juga senantiasa bertamu di hadapan

Namun ada rasa malu

Malu ku pada Rabb ku
Di usia ini rasanya belum punya bekal yang cukup untuk menghadapNYA

Malu ku pada Rabb ku
Nikmatnya tak sebanding dengan penghambaanku padaNYA

Malu ku para Rabb ku
Siapalah aku yang selama ini
Hanya numpang hidup di Bumi NYA

Dan malu ku pada Rabb ku
Betapa sedikit syukurku selama ini

*No candle, No celebration, No cakes, No chocolate, No waste.

Fulltime Mom ala saya

#Fulltime Mom
#odowop

Sejak 2014 saya putuskan hanya menjadi IRT saja. Setelah sebelumnya sudah mennjual seluruh aset toko yang sudah saya rintis sejak 2009.
Saya memutuskan menghentikan kegiatan yang tidak berhubungan langsung dengan anak dengan menimbang banyak faktor urgensinya.

Salah satunya adalah keinginan membersamai anak yang sudah saya ambil penuh karena saya meng-homeschooling-kan anak-anak saya.

Sebagai fulltime mom, kegiatan saya lebih banyak bersama anak-anak.  Setiap  kegiatan di rumah atau diluar rumah mereka selalu saya libatkan.
Memberikan stimulasi, pengalaman dan membuka pengetahuan mereka langsung pada lingkungan sekitar.

Kegiatan di luar rumah adalah yang paling banyak kami lakukan. Di kegiatan outdoor, anak-anak bisa lebih santai daripada didalam rumah baik mengerjakan worksheet, membaca buku atau kegiatan lainnya.

Di outdoor, banyak hal yang kami temui, amati, pelajari dan menambah khasanah pengetahuan kami. Tentu sebagai orangtua saya merasa sangat bersyukur. Membersamai anak-anak belajar mempersiapkan mereka menjadi pembelajar mandiri membuat saya sendiri semangat untuk memberdayakan potensi yang saya miliki, membangun rasa pede dan mengenali apa maksud Allah menciptakan saya di bumi ini , di lingkungan ini, di keluarga ini dan di diri saya pribadi.

Manjadi fulltime mom namun tetap terus belajar memaknai waktu bersama anak-anak adalah anugerah dan pilihan tepat yang membuat saya selalu tersenyum bersama anak-anak.

Yuliana
Banjarmasin, 2 oktober 2017

Daster

#Daster
#odowop

Nga menarik, kayak emak-emak, nga modis, nga cantik lah, modelnya itu-itu aja, nga menarik, nga gaol, de el el

Itu dulu… saya yang dulu…
Saya termasuk anti-pati makai daster baik itu di rumah apalagi sampai dibawa keluar rumah… apa coba..pokoke nga benget lah
Serasa selalu tampak kumel, kucel, dan nga seksih depan laki.

Namun sekarang dengan berjalannya waktu dan bertambahnya usia. Saya pun mulai menggunakan daster untuk keseharian dan juga dipake keluar rumah…
Eits… bukan sebagai luaran lho…
Namun daleman..
Secara hanya bahan daster yang adem yang enak dipake sebagai dalaman gamis panjang saya. Selain nyerap keringat juga bahannya enak kalo dah lama dipake.

Kenapa saya baru 2 tahunan ini menggunakan daster karena sekarang modelnya udah nga jadul lagi, motifnya juga udah update lebih colorfull, dan yang terpenting adem.

Yuliana
Banjarmasin, 3 oktober 2017

Kamis, 28 September 2017

KURANG KERJAAN

#kurangkerjaan

Mungkin banyak yang liat atau mengikuti kegiatan saya dan anak-anak sepertinya saya adalah emak yang kurang kerjaan.

Tiap saat ada di taman, nongrow di taman, wara-wiri perpus, pergi ke museum, gelar tiker di publik area. Kebiasaan ini tidak muncul begitu saja. Buat saya butuh keberanian dan rasa malu yang dimatikan agar bisa melakukan hal-hal tersebut diatas.
Dan terutama menyediakan waktu yang lebih untuk bisa mengadakannya. Skala prioritas lah kata orang.

Dulu, boro-boro duduk/nongrow  di taman atau publik area. kami maenan nya ngemol, nongkrow café, silih berganti tempat makan, jalan-jalan ngawur ngidul, keluar masuk hotel dan banyak lagi.

Namun setelah mempelajari parenting dan nekat berhomeschooling. Akhirnya saya mengerti bukan fasilitas wah yang akan membuat anak- saya menjadi pembelajar mandiri.
Bukan fasilitas lengkap yang membuat mereka sayang ama kami.

Namun waktu dan kebersamaan lah yang paling berharga buat anak-anak..

Bercengkrama dengan mereka setengah harian di tempat-tempat adem penuh ekplorasi. Sembari mengamati dan mengobservasi dengan keunikan mereka. Tanpa gadget yang mengisi hari-hari mereka. Tanpa kemewahan dan keangkuhan bahwa aku ini kekinian lhoooo…

Akulah orangtua yang memang kurang kerjaan
Yang tiap hari selalu berpikir, esok mau kemana lagi ya..
Yang selalu punya planning, esok mau buat apa lagi ya..
Yang selalu berkeinginan, esok belajar apa ya..
Yang selalu penasaran, esok anak-anak akan ngapain aja ya..
Berjuta hal yang bisa disebut kurang kerjaan

Yang pasti kami tidak butuh orang-orang yang nyinyiran,
Kami hanya butuh menciptakan bahagia dengan cara kami.

Yuliana
Banjarmasin, 27 september 2017

Selasa, 26 September 2017

Grandparent

#odowop

GRANDPARENT

Tadi siang aku baca sebuah artikel parenting mengenai grandparent. Bagaimana hubungan kakek-nenek kepada cucunya dan mengenai kewajiban sang orangtua tidak lepas meski anak-nya sudah baliqh atau menikah.

Akupun teringat kepada alm abah. Selama beliau hidup. Aku merasa sebagai kakek beliau jarang terlihat akrab dengan cucu-cucunya. Dan abahpun tidak pernah mau ikut campur bagaimana kami megurus anak-anak kami.

Keadaan ini juga sama dengan yang mama ku lakukan, beliau juga tak jauh beda dengan yang abah lakukan.

Aku dulu pernah berpikir, kok abah mama tidak begitu mau dekat dengan cucunya? Waktu itu aku masih tinggal terpisah dengan mama.

Aku coba kembali merenung dan flash back ke masa laluku. Di masa aku masih berusia antara 2-10 tahun. Yang aku ingat adalah aku dan ke 2 adikku lebih sering dititipkan ke nenek dan adik-adik mama saat mereka berdua bekerja.
Abah yang bekerja diluar kota dan ibu bekerja sebagai buruh pabrik yang kerjanya dengan sistem shift.

Aku pribadi merasa sejak dulu orangtuaku memang tidak akrab dengan kami anak-anaknya. Mereka tidak tau kapan kami punya masalah atau butuh orang untuk tempat curhat.

Dan ketika mereka memiliki cucu-cucu, mereka juga kurang akrab apalagi mau menjadi tempat menitipkan anak ke mereka.
Bahasanya, kami aja dulu dititipkan masa sekarang mereka dititipi?

Sejak satu persatu kami menikah, kami tidak pernah terpikir untuk tetap tinggal di rumah orangtua. Karena rumah kami kecil jadi setelah menikah harus sudah angkat kaki.

Namun sekarang tinggal mama seorang, dan aku berkesempatan menemani beliau dimasa tuanya.
Aku bersama ke 3 anakku mengisi harinya. Meski mama memang tidak sepenuhnya mau dititipi anak jika aku harus keluar rumah.

Apakah aku nanti akan seperti beliau?
Yang menolak sedari awal bahwa aku tidak mau dititipi cucu?
Bahwa aku sudah sangat lelah mengasuh anak-anakku dulu?
Bahwa cucu-cucuku adalah tanggungjawab kalian anak-anakku?
Bahwa aku ingin menikmati masa tuaku dengan tenang dan damai
Bahwa setelah kalian menikah kalian juga harus hidup mandiri dan bertanggungjawab akan hidup kalian sendiri..

Wallahuallam

Yuliana
Banjarmasin, 27 September 2017

Minggu, 24 September 2017

MASAK NGASAL

#ODOWOP
#MasakNgasal

Pagi ini nenek sudah mau berangkat ikut rombongan yasinan piknik ke pantai tangkisung dengan bis meski hujan sejak subuh tadi.

Jadinya kami bagi tugas utnuk menyiapkan makan siang nanti. Abang bertugas pergi belanja ke pasar utnuk membeli sayur sedang lauknya saya mau pake daging yang ada di kulkas.

Nga pake resep-resep ataupun nyontek-nyontek dulu, langsung saja bikin yang praktis berhubung saya nga bisa lama ada didapur karena fayyas bisa memporakporandakan semua yang ada didapur.
Daging sapi ini rencananya mau dioseng aja. Masak daging kentang masak kecap. Dengan bahan simple namun buth waktu pengerjaannya. Karena abang nga nemu penjual nenas. Mungkin karena hujan jadi pedagang pada sepi juga dipasar. Jadilah dagingnya direbus aja supaya nga alot.

Kuranglebih 1 jam merebus. Dan dilanjut memasak osengnya Cuma 10 menitan..taraaaa… jadi deh. Dan alhamdulillah dagingnya empuk. Bahannya ; daging 250gr, 1 buah kentang besar, daun bawang, bawang bombay, kecap manis , garam dan gula.

Semoga anak-anak suka.

Yuliana
Banjarmasin, 23 September 2017