Senin, 14 Agustus 2017

MINI, MINI, YUMMY.....

#Day6
#Level#3
#MyFamilyMyTeam
#KuliahBunsayIIP



Project Team

Ketua : Tante Kurniati

Pelaksana : Ami Yuliana, Daffa, Alta

Dokumentasi : Ami Yuliana

Suport Bahan : Nenek Fatimah, tante Ellyza, Datu Basariah

Suport Tools : Tante Kurniati



‘Ami, kita nanti bikin ini yuk’….., beberapa bulan yang lalu, bujukan ini diutarakan oleh alta. Dan bujukan ini selalu diucapkannya jika dia melihat gambar kue ini di hape saya (saya memang menSave resep tersebut).



Martabak manis atau biasa kami menyebutnya kue terang bulan, adalah kue yang selalu diutarakan alta agar kami membikinnya bersama. Dan hari ini pembuatan kue inilah yang kami jadikan project family.

Project ini benar-benar melibatkan semua penghuni rumah berikut keluarga besar kami.




Awal pembelian bahan-bahan, kami membelinya dari warung nenek ading, meminta 1 sendok teh fermipan ke Datu Basariah, meminta baking soda dan soda kue ke tante ellyza disebelah rumah, meminjam loyangnya ke adik saya Kurniati, dan nenek Fatimah juga request minta agar dibikinnya diperbanyak. Jadilah bahan ditambahin lagi oleh nenek Fatimah.

Yang awalnya adonan hanya untuk 250gram jadi 500gram.




Jam 9 pagi adik saya datang. Dia memang yang biasa membikin kue ini dan juga menjualnya secara online. Jadi dia memberikan instruksi apa saja yang akan dilakukan. Meski saya sudah punya cara membuatnya dari resep yang saya copy dari sosmed. Tapi masukan dari yang berpengalaman tentu akan lebih baik.



Project ini memang benar-benar disukai anak-anak. Terlebih jika ada hubungannya dengan urusan bikin membikin kue. Anak-anak selalu mau berperan dan membantu dalam melaksanakannya.



Setelah memberi tipsnya adik saya pun pulang karena harus menjemput anaknya sekolah.



Adonanpun selesai diaduk daffa. Loyangpun sudah dipanaskan. Tibalah adonan dituang dicetakannya.



Abang kebagian tugas, pergi ke rumah tante untuk meminta bahan pengembang, mengaduk adonan, mengolesi wajan, dan finishing memberi topping dikue yang sudah jadi. 

Alta juga antusias ikut membantu memberi topping, dan tak lupa apih yang dari sore kemaren datang, juga turut membantu kami yaitu dengan menemani adek fayyas, mengajak jalan dan menidurkannya pula. Sehingga kami bisa menyelesaikan tantangan hari ini dengan lebih cepat. Dan saya tentu saja masih jadi bagian dokumentasi dan membantu menuang adonan ke loyangnya.



Satu persatu adonan yang kami buat bersama tadi berubah menjadi kue yang cantik dan menggiurkan selera makan kami.

Sambil memberi topping anak-anak sudah tidak sabar untuk melahapnya. 



‘Yummy….enak mi, saya mau nambah boleh mi?’. Tak terasa ada 43 kue ada dihadapan kami. Semuanya menggoda. Sebenarnya sebelum selesai memberi topping semuanya, kue-kue tersebut udah keburu diicip oleh apih, daffa, alta dan nene ading.



Terus karena dari awal membuat ini adalah untuk mencoba resep dan berbagi. Jadi semua orang yang terlibat langsung maupun tidak langsung dalam project inipun kebagian kue martabak manis mini ini. 


‘Kalo dijual, harga berapa ya, satuannya’. Maklumlah semua dirumah kami adalah Cake Maker. Jadi apapun yang dihasilkan harus bisa dijual atau dijadikan usaha.



Saya pikir, untuk usaha bisa saja. Tapi adik saya sudah memulai usaha ini. Apa yang kami lakukan hari ini adalah menyelesaikan project famili dengan fun dan menimang nanti apakah ini bisa kami jadikan salah satu dari daftar jenis usaha yang akan kami ingin rintis jika kami pindah ke tempat baru nanti.


Tantangan hari ini berhasil. Semua orang menyukai kuenya. Dan kuenya pun sukses.


Terimakasih anak-anak dan semua yang terlibat dalam project kali ini.



Yuliana
Banjarmasin, 15 Agustus 2017

Minggu, 13 Agustus 2017

COOKING LUNCH

#Day5

#Level#3

#MyFamilyMyTeam

#KuliahBunsayIIP



                     COOKING LUNCH



Project Team :

Ketua : Nene Fatimah

Pelaksana : Ami Yuliana, Daffa

Dokumentasi : Ami yuliana

Penyemangat : Alta dan Fayyas



Sejak pagi anak-anak udah pada ngacir ke rumah sepupunya. Abang daffa udah ngungsiin de fayyas agar emaknya bisa mencuci dan beberes.



Tak berapa lama, nenek datang dari pasar dengan membawa semua bahan untuk makan siang hari ini. 

Nenek memang yang selalu rutin setiap pagi ke pasar yang ada disebelah komplek. 

Dan apapun yang nenek beli di pasar, sayur atawa ikan maka itulah yang menjadi menu makan siang kami hari itu.



Melihat isi keranjang belanjaan nenek, sepertinya hari ini menu makan siang kami adalah sayur bening dan lauk yang semuanya disukai anak-anak. 



Anak- anak selalu doyan kalo menu makan siang ada tempe orek (ini seperti menu wajib untuk abang daffa), terus empal jagung serta tempe goreng (kalo ini selalu jadi cemilan sebelum waktu makan siang tiba oleh alta).



Setelah nenek membersihkan ikan dan mengupas labu untuk sayur beningnya. Nenek pun langsung menuju kamarnya (setelah memberikan instruksi)..seperti biasa dia akan tidur siang pada jam 10 pagi sampai sebelum waktu zuhur ( karena sejak subuh sudah bekerja). 



Jadilah tinggal saya aja nih di dapur. Kemudian tak berapa lama, abang Daffa datang dengan menggendong fayyas. Langung saja saya jadikan ini project famili kami hari ini. Memasak makan siang bersama (cooking Lunch).



Kami bagi tugas, abang daffa yang menyiapkan sayurannya, terus gula merah sebagai bahan bikin tempe oreknya, saya yang bagian menggoreng-goreng, memasukan bahan sayur bening ke panci dan bikin sambal.



Menu siang ini adalah sayur bening, tempe orek, tempe goreng, empal jagung, ikan sepat siam goreng dan tak lupa sambal (kalo ini sih, nga boleh ketinggalan).


Karena semua ada didapur, jadilah dapur tampak berantakan. Seperti lantai dapur yang basah dan kotor karena mie kuah yang dimakan fayyas berserakan ( fayyas lagi belajar menyuap makanannya sendiri), kemudian alta datang dan langsung meminta gorengan empal berulang-ulang, sambil terus pengen ikut membantu mengaduk dan lain-lain.



Saya biasanya selalu melibatkan anak-anak didapur. Tapi kadang nenek tidak suka kalo anak-anak ada didapur dan menganggap mereka hanya merecokin saja. Padahal mereka kan tahap pengen tau segalanya. Dan itulah makna belajar sebenarnya.



Alhamdulillah dengan bantuan abang Daffa dan alta. Cooking lunch siang ini berhasil. ( tidak sempat foto yang lainnya karena tangan selalu basah dan berminyak).





Yuliana
Banjarmasin, 14 Agustus 2017

Sabtu, 12 Agustus 2017

CAR FREE DAY

#Day4
#Level#3
#MyFamilyMyTeam
#KuliahBunsayIIP



                        CAR FREE DAY





Project Team

Ketua : Ami yuliana

Anggota : daffa, alta, fayyas

Dokumentasi : tante janah




Rasanya sudah 2 tahun ini, kami tidak pernah lagi jalan pagi bareng terutama ke Car Free Day. Kangen juga liat orang banyak..hehe.. kelamaan ngumpet di rumah dan sibuk hanya dengan anak-anak saja.


Akhirnya kami pun merencanakan project family hari ini yaitu jalan pagi di Car Free Day di siring Mesjid Raya Sabilal Muhtadin Banjarmasin.


Petualangan kami dimulai setelah sholat subuh. Persiapan sudah dilakukan dimalam hari seperti mengingatkan anak-anak untuk bangun sebelum subuh, menyiapkan alat tempur fayyas, air minum, dan beberapa kotak makan plastik (siapa tau ada makanan yang akan dibeli anak-anak). 

 


Terus subuhnya saya hanya mempersiapkan baju ganti fayyas dan alta setelah mereka bangun dan susu. Rencananya memang tidak mandi subuh ini. 

Anak-anak sudah disounding 2 hari yang lalu kalo Ahad subuh ini harus sudah bangun. Meski mereka suka cepet bangunnya tapi persiapan tetap harus dilakukan. 

Terutama fayyas. Maklumlah bawa batita bawaannya ribet, belum lagi saya harus mengendong sepanjang jalan nanti. Tentu tidak ingin ada hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.


Persiapan kelar, tante janah datang untuk menjemput jam 05.30 Wita. Kali ini kami berangkat menggunakan hanya dengan satu motor tante janah saja untuk berlima (maaf- jangan ditiru ya).


Suasana subuh menjelang pagi begitu sejuk, matahari masih sembunyi dibalik awan yang mulai berwarna jingga diufuk timur. Tak berapa lama kamipun sampai di parkiran di sebuah gedung KNPI berseberangan dengan lokasi car free day. Karena masih subuh jadi masih bisa masuk sampai disana (Kalo sudah siangan dikit udah nga bisa lagi karena harus melawan arus manusia yang sedang jalan pagi) .




Kami memulai jalan pagi dari di depan Mesjid Sabilal Muhtadin. Kamipun bagi tugas, abang Daffa bawa tentengan berisi seluruh alat tempur fayyas dan bekal , tante janah menjaga alta, dan saya mengendong fayyas.

Kemudian menyeberang jalan ke bagian siringnya. Tepat di seberang ada gedung menara pandang, yang merupakan ikon baru kota Banjarmasin. Kami juga bisa memandang dari seberang sini ada 2 bangunan rumah tradisional/ rumah anno yang sudah dipercantik dari aslinya sebagai tempat souvenir . Dan juga terlihat ada panggung tenda putih.

Sangat jelas terdengar musik khas suku dayak memecah suara ombak sungai. 

Yah… dari seberang sini kamipun masih bisa melihat dengan jelas ada 3 penari lengkap dengan pakaian khas dayak menyerupai burung sedang menari meliuk-liuk seiring dengan musik yang terdengar. Juga kami bisa melihat banyak orang mulai berkerumun di bawah lantai menara pandang. Sepertinya ada sebuah pertunjukkan pula. Tak jelas memang cuma yang sempat terlihat oleh saya ada orang memainkan obor.



Sembari menikmati udara pagi dan riak gelombang sungai yang ada dihadapan kami. Fayyas begitu antusias melihat sungai, klotok yang wara-wiri dan juga orang-orang yang lewat. 

Dari yang awalnya hanya digendongan, fayyas mulai mau diturunkan dan memulai latihan jalannya. 

Abang juga bertugas, membeli cemilan di seberang jalan siring. Dia sendirian berjalan mencari donut katanya. Akhirnya tak berapa lama dia datang dengan membawa 5 donat yang langsung kami santap bersama. 



Sungai martapura di depan Mesjid Sabilal ini adalah sungai yang menjadi sumber kehidupan sebagian penduduk banjar. 

Seperti pagi ahad ini sambil terus berjalan karena spot yang kami pilih tadi mulai panas karena matahari pagi mulai cerah. 

 Kami melihat diseberang sana ada pasar terapung. Dimana para pedagang diatas sampan menjajakan dagangannya. Terus ada klotok yang membawa penumpang untuk berkeliling sungai Martapura dan menikmati pemandangan kota Banjarmasin dari atas sungai. Tentu pengalaman yang akan selalu diingat bagi siapapun yang pernah/tinggal di Banjarmasin.

Sayangnya kali inipun kami tidak jadi naik klotok tersebut. saya sih pengen anak-anak merasakan sensasi naik klotok tapi alta masih tidak berani. 


Semakin terang suasana pagi ini semakin banyak orang-orang dari segala penjuru Banjarmasin mungkin juga dari luar kota datang ke car free day. Berbagai komunitas berkumpul. Abang Daffa mengutarakan ketertarikannya mendatangi komunitas sepeda ontel yang diliatnya ..katanya pengen foto. 




Tapi kami harus segera mengakhiri jalan pagi kami, karena tante janah akan masuk kerja. 

Pengennya sih bisa jalan sampai ke seberang sungai yaitu ke sekitaran menara pandang. Ah …mungkin ahad depan deh insyaallah.




Yuliana

Banjarmasin, 13 Agustus 2017

Jumat, 11 Agustus 2017

SARAPAN CERIA

#Day3
#Level#3
#MyFamilyMyTeam
#KuliahBunsayIIP

   

                    SARAPAN CERIA



Project  Team:
Ketua Project : Ami Yuliana
Pelaksana : Daffa dan alta




Kami mengawali hari ini dengan sholat subuh berjamaah, saya, daffa, dan alta. Sedangkan de fayyas tetap setia nungguin sampai selesai sholat ( alhamdulillah ). Dan abang daffa yang menjadi Imamnya.



Pagi ini kami akan melaksanakan project yang udah kami diskusikan sehabis abang pulang dari sholat magrhrib di mesjid kemaren malam.
Membuat sarapan bersama.


Biasanya saya yang selalu menyiapkan, anak-anak tinggal duduk manis menyantap sarapan yang disediakan.
Menu sarapan kali ini masih sama seperti biasanya yaitu pancake ala-ala (red; lempeng –bahasa banjar).

Kenapa selalu lempeng ini yang jadi menu hampir setiap hari di rumah kami. Karena adonan lempeng inilah yang selalu tersisa dari adonan kue tradisional yang biasa nenek bikin dan jual setiap hari. Nene memang membuat kue bikang dan roti pisang setiap subuh. Kue-kue tersebut setiap subuh beserta kue-kue lainnya diantar ke warung-warung sekitar tempat tinggal kami.


Nah.. adonannya biasanya banyak tersisa. Daripada mubajir, maka biasanya saya akan mengolahnya menjadi lempeng sebagai sarapan. Kadang Cuma polos aja kadang jua ditambahin pisang.

Cara makannya dicocol denga gula pasir. Bisa juga kami kadang memakannya dengan dipotong tipis-tipis terus dikasih sirup merah.

Karena sekarang kami membikin sarapan bersama, semua kebagian tugas. Abang daffa bagian membikin teh, membikin susu untuk dia sendiri juga untuk alta dan fayyas.
Sedangkan alta bagian mengambil dan meletakkan kembali kotak susunya ke kulkas.

Tentu saja kadang ada perdebatan kecil dan candaan-candaan antara mereka. Itulah makna dari sebuah team.


Setelah selesai dipersiapkan, kami pun membawa semuanya ke ruang tengah untuk dimakan bersama. Adik fayyas juga sudah siap, sambil meminum air mineral dan belajar memasukkan kembali sedotannya ke dalam lubang gelas. Konsen banget dia dengan rasa penasarannya.

Dan kami sarapan. Saya pun mengucapkan terimakasih atas kerjasama mereka bertiga.


Yuliana
Banjarmasin, 12 Agustus 2017

Kamis, 10 Agustus 2017

MOTOR CLING

#Day2
#Level#3
#MyFamilyMyTeam
#KuliahBunsayIIP




                    MOTOR CLING


Team :
Ketua : Ami Yuliana
Pelaksana : Daffa, alta dan fayyas



Alhamdulillah, langit pagi ini tampak cerah. Memang subuh tadi gerimis membasahi bumi borneo tapi cuma sebentar.


Hari kedua  ini rencana projek keluarga kami adalah membersihkan motor. Karena dua hari kemaren hujan mengguyur kota Banjarmasin. Sehingga motor sangat kotor sekali. Padahal motor adalah transport satu-satunya yang kami gunakan untuk segala kegiatan belajar kami.



Memang motor ini bukanlah milik kami. Motor ini adalah pinjaman dari mantan bosnya Apih dulu. Sebagai yang diberi amanah kami tentu akan terus merawat barang ini dengan sebaik-baiknya. Maklumlah 3 motor terdahulu sudah dijual semua. Tapi sudahlah jangan diingat lagi cerita sedih itu.



Anak-anak memang sudah tau rencana projek ini sore kemaren. Sebenarnya bisa saja motor ini saya bawa ke pencucian motor yang tidak jauh dari rumah. Tapi saya tidak punya banyak waktu untuk menunggu motor itu sampai kelar.



Jadilah anak-anak diajak mencuci motor bareng sekaligus belajar. Memang sudah beberapa kali anak-anak saya libatkan dalam kegiatan cuci motor ini. Karena kami memang selalu mengerjakan apa saja bersama.



Kali ini yang mengkomando adalah saya, awalnya saya minta abang yang memimpin projek tapi dia nga mau. Dia hanya mau melaksanakannya saja.



Mencuci motornya hanya didepan rumah datu (nene buyut). Di depan rumah ada sungai kecil (empang)yang panjangnya kira-kira 100 meter. Airnya memang tidak mengalir lagi tapi saat hujan empang ini akan penuh.


Saya mulai mengeluarkan motor dan membawanya ke pinggir empang, alta mulai mengambil gayung dan kain pel kecil, sedang abang daffa sudah menunggu di pinggir empang. Dan  awalnya de fayyas hanya didudukkan di teras sebagai pengawas kegiatan... hehe.



Anak-anak selalu senang kalo main air. Mereka  mulai menyiram, menyikat ban, mengelap motor sampai bersih. Bahu membahu dan membagi tugas. Yang bagian ban depan bagian alta yang membersihkannya, sedang bagian ban belakang adalah tugas abang.
Setelah bersih dan terlihat agak kering, abang daffa juga bertugas membeli semir ban yang ternyata tidak dijual diwarung nene ading (adik nene). Jadilah abang daffa pergi ke warung yang lumayan jauh dari rumah dengan meminjam sepeda sepupunya dulu.

Setelah sampai, langsung lah abang dan alta kembali memberi semir di ban motor sampai cling. De fayyas tak lupa juga ikut nimbrung pengen ambil bagian.
Dari projek ini anak-anak jadi saling bekerjasama menyelesaikan tantangan ini. Mereka senang karena diizinkan maen air, motorpun bersih cling..dan tentu saja saya yang paling senang melihat mereka senang.




Yuliana
Banjarmasin, 11 Agustus 2017

Rabu, 09 Agustus 2017

Taman Kamboja

#Day1
#Level#3
#MyFamilyMyTeam
#KuliahBunsayIIP

                  

                TAMAN KAMBOJA



Team :
Ketua   : Daffa Aqila AP (12y)
Dokumentasi : Ami Yuliana
Anggota : Altamisela (4,5y), Fayyasy (1,3y)

Setelah sarapan pancake ala-ala pagi ini, kami bersiap-siap untuk menjalankan projek tantangan dihari pertama. Projek keluarga ini diusulkan oleh abang Daffa 2 hari yang lalu melalui diskusi.

Projeknya adalah bermain layang-layang bersama di taman bermain. Masing-masing kami sibuk dengan tugas mempersiapkan apa saja yang akan dibawa sebagai pelengkap selama kami ditaman.

Abang menyiapkan 2 layang-layang yang dia sudah beli kemaren warna biru dan hijau,  juga termasuk benangnya yang  sudah dipintal dibotol air mineral bekas.

Sebelum berangkat, dia mengecek sekali lagi apakah layang-layang tersebut layak/bagus apabila nanti diterbangkan di taman.
Kemudian dia menyiapkan minuman susu yang diseduhnya sendiri terus dimasukkannya dibotol.

Sedangkan alta, dialah yang paling dulu mandi pagi ini. Dia juga sudah memakai baju lengkap dengan jilbab tanpa bantuan saya (ini termasuk dalam Melatih kemandirian pada game level#2).  Kemudian dia tanpa diminta pula memasangkan kaos kaki ke fayyas yang  baru saja selesai dipakaikan baju.

Diprojek ini saya bertugas sebagai penyemangat, yang mendokumentasikan, dan pemain pula.
Setelah menyiapkan fayyas, abang dan alta bergantian menjaga adiknya tersebut sementara saya menyiapkan cemilan buat nanti di taman.
Semua perlengkapan seperti tikar alas duduk nanti, makanan untuk fayyas,cemilan dan air minum semua dibawa didalam wadah. Kami mengusahakan minim sampah selama berada disana.

Sebelum berangkat tepat jam 9 pagi. Saya liat abang daffa juga menyiapkan bola sepak didalam kantong plastik. Saya tidak banyak bertanya soal itu. mungkin dia punya planning lain.

Akhirnya kamipun berangkat, perjalanan tidak begitu lama, kami naik motor menuju taman kira-kira 20 menit sampailah ditaman Kamboja.

Namun ada sebuah kecelakaan kecil. Sebelum kami menemukan tempat parkir. Ternyata botol penggulung tali buat layang-layang jatuh dan otomatis layang-layangnya pun keseret.  Saya tidak tau awalnya jadi saya meneruskan motor saya. Kemudian abang meminta berhenti untuk mengambil layang-layang yang terjatuh serta botol pengikat tali layangnya. Kedua layang-layang memang hanya dipegang abang saja selama perjalanan .

Botol tersebut lumayan jauh tertinggal kira-kira 100 meter dibelakang. Saya memutuskan memutar balik motor dan mengikuti abang daffa yang hanya berjalan kaki mengambil layang-layangnya.

Saya liat dia merobek layang-layangnya. Kemudian membanting  layang tersebut di tengah lapangan parkir taman. Dan terus menuju botol yang terjatuh.

Saya pun menghampiri dan mngatakan apa yang dilakukannya sangatlah tidak bijak. Saya minta dia untuk memungut layang-layang tersebut yang sudah dirobeknya dan membuangnya ditempat sampah. Waktu itu saya liat wajahnya sungguhlah kesal dan marah. 

Belum tuntas kejadian tersebut, alta pun mengatakan kalo sandalnya jatuh di belakang kami tadi. Saya kembali memutarkan motor saya dan mencari satu sandal alta yang terjatuh.

Kami memang sudah dihalaman taman. Taman ini memang tidak ada tempat parkir khusus yang tersedia. Semua orang parkir motornya sembarangan. Ada yang di dalam taman padahal tidak boleh, dll.

Saya tau abang sudah kehilangan moodnya untuk bermain atau pergi ke dalam taman. Karena layang-layang yang satunya (hijau) juga rusak dan tidak bisa diterbangkan lagi.

Abang sudah patah semangat. Dia sudah tidak berselera lagi untuk menjalankan projeknya.

Saya terus mencoba mendengarkan segala keluh sebalnya. Saya coba berempati namun juga harus menjaga kegembiraan alta yang ingin sekali bermain ditaman.

Abang memang perfeksionis sama seperti saya. Namun sejak beberapa tahun yang lalu saya berusaha belajar menurunkan kadar perfeksionisnya saya.  Dan kejadian ini membuat dia benar-benar kehilangan moodnya untuk bermain.

Sembari mendengarkan dia mengeluarkan semua keluhnya. Saya menanyakan apakah dia masih ingin kami ke taman atau pulang saja? Dia menjawab, ‘pengen tetap ke taman?’ Saya tanya lagi, ‘apakah dia mau beli layang lagi?’.  Dia bilang, ‘uang abang udah habis’. saya pun menawarkan untuk pakai uang saya saja , dia bilang kalo beli lagi. Maka akan sangat kesiangan di taman dan tentu saja akan semakin panas sehingga kami tidak bisa lagi duduk di rumput taman.

Jadi kesimpulan diskusi dadakan tersebut, kami tetap ke taman dengan memainkan apa saja yang bisa kami mainkan bersama yang penting kami semua sama-sama bergembira.

Setelah memilih spot untuk mengelar tiker, alta yang bertugas mengelar tikernya. Semua bekal dikeluarkan, adik fayyas diturunkan dari bedongan. Dan kamipun duduk bersama.

Suasana hati abang memang belum reda benar, air matanya masih saja mengalir. Abang daffa termasuk tipe melankolis. Dia kalo menangis hanya air matanya aja yang kelihatan. Diapun rebahan saja.

Saya memberi waktu kepadanya untuk menguasai suasana hatinya. Saya mulai menyuapi fayyas dan alta. Alta lagi pengen minta bubur si dede.

Setelah selesai makan, alta pergi bermain sendiri karena dia memang sudah berani bermain sendiri. Tentunya memang sudah sering kami beritahu apa yang harus dia lakukan jika bermain tidak didampingi.

Sementara alta main. Saya bicara dengan abang yang masih rebahan. Saya coba memberi gambaran apa sih tugas pemimpin projek.

Bahwa dia yang mengatur segala hal, dan tidak selalu dia yang terjun langsung. Dia bisa mendelegasikan tugas-tugas tersebut.  Termasuk di dalam permainan. Dia boleh merencanakan sebuah permainan dan tidak selalu harus dia juga ikut bermain (abang menyiapkan permainan buat alta dan fayyas dan menurut dia dia tidak bisa bermain dengan kedua adiknya karena adik-adiknya masih kecil).

Dan ternyata rasa penasaran saya tentang bola yang dia bawa itu adalah, dia mempersiapkan permainan tersebut untuk kedua adiknya.

Katanya itukan abang siapkan untuk adik-adik, tapi abang kan nga bisa main. Kenapa nga bisa? Tanya saya.  Abang menyiapkan itu sebagai permainan yang bisa dimainkan alta dan fayyas saja adalah bentuk dari salah satu tugas manajer projek. ‘Well done’ kata saya.
Saya liat ada sumbing senyum dibibirnya.

Saya bilang saya saja tidak sampai memikirkan itu. Abang sudah hebat sudah berempati dengan adik-adik yang masih kecil.
Main layang-layang kan rencana dia mau main sama saya. Dia mau ngajarin saya untuk bisa menerbangkan layang-layang. Saya terima tantangan dia.  Dan karena kecelakaan layangnya rusak. Saya bilang tidak menutup kegembiraan kita hari ini.

‘Apapun rencana kita, tidak semua bisa selalu sesuai keinginan kita. Kita sudah berusaha dan berikhtiar. Apapun bisa terjadi diluar kemampuan kita. Jangan sampai rencana yang tidak bisa terwujud itu mematahkan rencana lainnya. Jangan bertumpu pada sesuatu yang diluar kontrol kita. Bersyukur saja kita masih bisa bermain di taman hari ini, bahwa hari ini sangat cerah tidak seperti 2 hari yang lalu hujan terus. Next time kita bisa merencanakan lagi bermain layang-layangnya. Siapa tau apih bisa ikut.’

Akhirnya senyum itu saya liat lagi dan saya peluk dia. Dia pun mengambil bolanya didalam tas ransel yang memang dibawanya. Terus mengajak alta untuk bermain.

Saya pun ikut bermain, lengkap dengan gamis dan niqob yang saya kenakan. Asal anak-anak senang saya akan lakukan apa saja. Tak peduli orang setaman melihat apa yang kami lakukan. Dan ada kejadian lucu, saking semangatnya abang daffa maen bola, sandalnya pun putus.

Sementara adik fayyas anteng banget duduk di tiker. Sambil konsentrasi dengan ekplore nya sendiri. Dia begitu konsen dengan memasukkan susu dari botol minumnya ke botol minuman lain. Terus mencoba memasang tutup botol minuman kemasan tersebut beruang-ulang.  Dia begitu senang saat dia bisa menuangkan susunya dan juga meminumnya. Sampai-sampai dia tidak menangis atau pengen minta digendong karena kami tidak didekatnya.

Selain bermain bola, kami juga mencoba bermain wahana permainan yang ada ditaman. Abang dan saya bergantian menemani fayyas ditempat kami duduk.

Dan sampai jam 11 siang. Matahari sudah mulai tinggi. De fayyas pun darurat harus segera dibersihkan karena dia pup (maaf) . Dan tantangan projek bermain bersama hari ini kami akhiri dengan gembira.

Dan pelajaran berharga buat abang daffa. Bawa dia harus bisa menswitch moodnya sendiri. Dan buat saya pribadi harus terus mempraktekkan komunikasi produkif dimanapundan kapanpun ke anak-anak.

Yuliana
Banjarmasin, 10 Agustus 2017

Selasa, 01 Agustus 2017

Aliran Rasa Melatih Kemandirian

#Aliranrasa
#Level2
#BunsayIIP
#Melatihkemandirian
#Tantangan10hari

Aliran Rasa Melatih Kemandirian Anak


Mengurus 3 orang anak dengan kondisi LDM, kadang saya dihadapkan dengan banyak tantangan yang membuat saya harus selalu dalam kondisi waras. 3 bocah yang semuanya tidak bersekolah, membuat saya harus selalu membersamai mereka baik dalam hal belajar ataupun memonitor perkembangan fisik, psikomotorik, kognitif, ibadah,  dan emosi mereka.



Suami yang datangnya tak tentu membuat jadwal kami kadang bisa menjadi sangat fleksibel. Tapi kami berusaha sebagai orangtua berdiskusi untuk perkembangan mereka semua. Saling mendukung satu sama lainnya. Memang tidak mudah awalnya. Tapi dengan terus memberikan contoh dan melibatkan suami dalam keseharian kami. Akhirnya beliau mau berkontribusi  dan mulai mau terlibat.



Hampir semua aspek dalam keseharian kami adalah proses belajar bagi kami berlima. Kadang anak-anak rewel, bertengkar, beda pendapat, saling ledek, dan kadang tidak mematuhi aturan yang kami sepakati.  Tapi mereka juga sering bercanda bersama, saling menolong, saling menjaga, saling peluk dan saling menyayangi, memberikan prestasi yang baik dalam hal ibadah, dalam adab dan tentunya mereka sangat sayang kami sebagai orangtuanya.



Saya bersyukur mereka ada dalam kehidupan saya.



Seperti latihan-latihan kemandirian yang telah saya latihkan ditantangan 10 hari ini. Sangat membantu saya untuk tetap dijalur yang benar. Tetap terjaga dimana batas maksimal yang saya ingin capai. Karena kadang saya ingin semuanya serba cepat, serba terburu-buru dan terlalu banyak jadwal untuk anak-anak.

Tapi disini dilatihan ini saya dibimbing untuk bisa tetap berlatih sesuai kemampuan saya dan kemampuan anak-anak. Tanpa mencederai kewarasan saya, tanpa mencederai fitrah belajar dan fitrah perkembangan mereka.



Mereka belajar, sayapun belajar.



Yuliana
Banjarmasin, 01 Aguatus 2017