Selasa, 09 Januari 2018

AKU BISA MENYEBUT ANGKA

#Day6
#Tantangan10H
#level7
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga

Tetiba alta datang dan menunjukkan sesuatu ke saya.

‘Ami, coba lihat. Aku bisa nih 1, 2 3, 4,5,6,7,8,9,10.’.(sambil mengacungkan seluruh jemarinya ke saya).

‘Alhamdulillah, alta sudah mampu mengabungkan angka dan jumlah jemarinya’. Sambil saya mengusap kepala dan memeluknya.’

‘Belajar sendiri ya ka?” tanya saya.

‘Aku yang ajarin, mi.’ Abang yang sedang makan langsung menyahut.

‘Alhamdulillah, ami senang abang sudah bantu ading belajar berhitung.’
Senyum senang terpancar dari keduanya.

Berhitung atau mengenal angka memang tidak saya paksakan ke  alta harus bisa. Terlebih setelah melewati tantangan level 6 kemaren #matharoundus, sangat membantu sekali agar saya bisa mengenalkan matematika supaya lebih disenangi anak-anak tentu dengan cara yang menyenangkan

Beberapa hari yang lalu dia memang sudah bisa menyebutkan angka 1-6 namun selalu loncat ke angka 8. Angka 7 tidak pernah disebut dalam urutan menghitungnya.
Saya hanya mengingatkan sesekali namun tidak memaksa dia harus  benar.

Dan hari ini dia akhirnya bisa. Buat saya alhamdulillah. Terlebih dia sudah mampu menghubungkan antara jumlah jarinya dengan urutan dalam angkanya. Bukan hanya sekedar hapal apalagi hapal karena berurutan.

Anak adalah bintang. Mereka akan menunjukkan kekuatan yang mereka punya dengan cara yang unik dan waktu yang tepat. Bukan harus digagas dan terburu-buru. Karena yang selalu diburu akan tidak bagus akhirnya.

Anak-anak akan menemukan sendiri fitrah mereka. Dari setiap yang mereka lihat, pegang, rasakan dan lakukan. Tugas kita sebagai orangtua yang peduli dan tidak ingin anak-anak mekar terlalu dini adalah mendampingi dan selalu mendukung  setiap ada sinyal yang akan membawa mereka ke arah fitrah mereka.

Kitalah orangtua yang sebenarnya harus membekali diri karena kita telah dititipi anak-anak hebat ciptaanNYA. Memantaskan diri adalah kunci utama. Agar anak-anak tidak akan layu sebelum berkembang.

Tetap semangat. Tepat istiqomah dalam membersamai dan memfasilitasi anak-anak yang akan menjadi generasi bintang. Jika mereka selalu diberi kesempatan mencapai angkasa.

Yuliana | 10 Januari 2018

AKU BISA MENYEBUT ANGKA

#Day6
#Tantangan10H
#level7
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga

Tetiba alta datang dan menunjukkan sesuatu ke saya.

‘Ami, coba lihat. Aku bisa nih 1, 2 3, 4,5,6,7,8,9,10.’.(sambil mengacungkan seluruh jemarinya ke saya).

‘Alhamdulillah, alta sudah mampu mengabungkan angka dan jumlah jemarinya’. Sambil saya mengusap kepala dan memeluknya.’

‘Belajar sendiri ya ka?” tanya saya.

‘Aku yang ajarin, mi.’ Abang yang sedang makan langsung menyahut.

‘Alhamdulillah, ami senang abang sudah bantu ading belajar berhitung.’
Senyum senang terpancar dari keduanya.

Berhitung atau mengenal angka memang tidak saya paksakan ke  alta harus bisa. Terlebih setelah melewati tantangan level 6 kemaren #matharoundus, sangat membantu sekali agar saya bisa mengenalkan matematika supaya lebih disenangi anak-anak tentu dengan cara yang menyenangkan

Beberapa hari yang lalu dia memang sudah bisa menyebutkan angka 1-6 namun selalu loncat ke angka 8. Angka 7 tidak pernah disebut dalam urutan menghitungnya.
Saya hanya mengingatkan sesekali namun tidak memaksa dia harus  benar.

Dan hari ini dia akhirnya bisa. Buat saya alhamdulillah. Terlebih dia sudah mampu menghubungkan antara jumlah jarinya dengan urutan dalam angkanya. Bukan hanya sekedar hapal apalagi hapal karena berurutan.

Anak adalah bintang. Mereka akan menunjukkan kekuatan yang mereka punya dengan cara yang unik dan waktu yang tepat. Bukan harus digagas dan terburu-buru. Karena yang selalu diburu akan tidak bagus akhirnya.

Anak-anak akan menemukan sendiri fitrah mereka. Dari setiap yang mereka lihat, pegang, rasakan dan lakukan. Tugas kita sebagai orangtua yang peduli dan tidak ingin anak-anak mekar terlalu dini adalah mendampingi dan selalu mendukung  setiap ada sinyal yang akan membawa mereka ke arah fitrah mereka.

Kitalah orangtua yang sebenarnya harus membekali diri karena kita telah dititipi anak-anak hebat ciptaanNYA. Memantaskan diri adalah kunci utama. Agar anak-anak tidak akan layu sebelum berkembang.

Tetap semangat. Tepat istiqomah dalam membersamai dan memfasilitasi anak-anak yang akan menjadi generasi bintang. Jika mereka selalu diberi kesempatan mencapai angkasa.

Yuliana | 10 Januari 2018

NYANYI YUK...

#Day5
#Tantangan10H
#level7
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga

NYANYI YUK…

Sedari kemaren saya sudah sakit begitu juga adiknya fayyas. Sebenarnya hari ini tidak fokus mengamati anak-anak dalam aktivitas mereka. Terutama alta yang bulan februari besok genap berusia 5 tahun.

Dari pagi, alta mengeluh karena tidak punya teman maen di sekitar rumah. Semua temannya sedang sakit. Sehingga tidak ada yang diizinkan untuk maen di halaman rumah terlalu lama.

Beberapa kali alta datang dari mencari teman yang bisa diajaknya maen. Rupanya dia sudah berkeliling.

Akhirnya karena saya kasihan melihat alta tidak punya aktivitas sementara saya hanya terbaring lemas karena meriang dan flu berat.
Dan abangnya sedang keluar karena ada jadwal konsultasi ke RSGM. Saya pun mengizinkan dia untuk menonton lagu di laptop.

Sebenarnya saya tidak begitu suka dia menonton lagu tersebut. saya pun sudah mengantisipasi lagu-lagu yang ada dilaptop bergenre religi.

Dan selama lebih dari 2 jam alta menyanyi di depan laptop dengan suara nyaring penuh kepercayaan diri. Karena sampai di rumah sebelahpun saya masih mendengar alta sedang bernyanyi.

Dan ternyata dampak buruk yang saya khawatirkan tidak terjadi. Malah setelah mematikan laptop dia terlihat buru-buru ke kran yang ada disamping rumah dan berwudhu.

Alhamdulillah masyaAllah. Tanpa disuruh apalagi diiming-imingi hadiah, alta melakukan sholat zuhur, ashar dan maghrib segera setelah azan terdengar.

Dan setelah diitanya, doa apa yang dia panjatkan ternyata dia mendoakan saya supaya cepat sembuh.

Barakallah fii umrik gadisku. Semoga engkau selalu istiqomah.

Yuliana |9 Januari 2018

Minggu, 07 Januari 2018

AKU SENANG MEWARNA

#Day4
#Tantangan10H
#level7
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga

                 AKU SENANG MEWARNA

Komputer adalah benda yang wajib dikuasai di rumah kami. Anak-anak sejak kecil memang sudah diperkenalkan dengan benda kotak ini. Termasuk juga alta.

Didalam menu yang ada di dalam komputer ada yang dia suka menggunakannya. Yaitu paint (mewarna).
Dan sering membuat apa saja yang dia suka. Jemarinya yang lincah memainkan mousepad dengan sangat percaya diri.

Gambar dan warna yang dibuatnya memang masih terlihat abstrak namun kepercayaan dirinya bahwa dia mampu menguasai atau membuat sesuatu sudah bisa menambah rasa percaya dirinya.

Biasanya setelah selesai menggambar. Dia selalu meminta pendapat saya. Apakah bagus atau tidak?

Sejauh ini dia enjoy dan yakin akan kemampuannya. Buat saya itu sudah bagus. Dia akan menemukan kesenangan dan prestasi jika terus saja didukung ke hal positif. 

Yuliana| 8 Januari 2018

AKU SUKA DANDAN

#Day3
#Tantangan10H
#level7
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga

Sejak berhijrah, saya tidak lagi memoles wajah saya dengan kosmetik. Bukannya tidak suka, namun berdandan untuk seorang perempuan yang berstatus istri dilarang terutama jika keluar rumah kecuali hanya untuk suami saja. Apalagi saya sekarang sudah menutup wajah saya (niqob) semoga selalu istiqomah.

Dan alta sesekali bertanya kenapa amihnya tidak pernah terlihat seperti ibu-ibu yang lain. Apalagi saat dia melihat foto pernikahan kami dimana saya waktu itu memang belum menggunakan hijab. Alta begitu suka dengan foto tersebut dan sering meminta saya agar tampil seperti itu lagi.

Memberikan pengertian kepada anak kecil memang harus dengan bahasa yang mudah dipahami. Ditambah gempuran tontonan tv , iklan dan pemandangan sehari-hari yang dia lihat membuat saya harus ekstra hati-hati dalam memilih kata.

Penampilan saya sekarang memang tidak pernah dipertanyakannya.  Alta sepertinya sudah terbiasa melihat saya tertutup tanpa terlihat seperti orang kebanyakan.
Namun ada usaha kecil yang saya lakukan agar anak cewek satu-satunya ini tidak menanyakan atau meminta lebih. Saya pun menggunakan bedak dan celak itupun jarang dipakai.

Alta mulai mengemari berdandan setelah melihat tontonan televisi disini. Sejak kami di Jakarta dan Depok, kami tidak punya televisi begitu juga disini. Televisi nene susah rusak lama dan saya tidak ingin memperbaikinya. Namun disini kami tinggal bersebelahan dengan datu dan sepupunya yang tentu saja masih ada tv dirumah mereka. Dan alta dengan tanpa segan selalu numpang menonton disana.

Hampir setiap hari dia berdandan. Dari cara ikat rambut, pakai bedak, pakai celak dan lipstik.
Dan siapapun yang punya alat kosmetik, dia akan gunakan dan mengaplikasikannya sendiri ke wajah polosnya.
Awalnya saya melihat aktivitas dandannya hanya sekedar lucu-lucuan. Seperti apa saja dijadikan alat dandan; spidol yang dijadikan lisptik, celak yang dijadikan alis. Kadang warnanya sungguh mencengangkan…

‘Aku suka dandan,’ katanya.

Memang anak-anak diusia seperti alta masih suka meniru apa saja yang menurutnya menarik. Dari pakaian, gaya rambut, asesoris, gaya bicara dan tampilan luar tokoh yang sedang tren. Seperti tokoh film kartun yang booming itu… dia begitu mengandrunginya. Meski saya tidak pernah memperlihatkan film kartun tersebut. Ada saja yang memperlihatkannya dari sepupunya membawa laptop ke rumah dan memperlihatkan film tersebut, terus nonton di tv sepupu di sebelah rumah. Semua yang ada di kartun itu dia pengen juga memiliki dan tampil seperti itu.

Dan hari ini pun, alta minta didandanin dari mulai rambut yang ingin dikuncir 2, mata yang diberi celak dan eyeliner (kemaren dia liat tantenya baru membelikan amihnya benda-benda tersebut). Dan kegiatan berdandan ini membuat matanya berbinar-binar.

‘Aku cantik kan?’ ujarnya penuh senyum didepan cermin besar di kamar nenek.

Pertanyaan serupa kerap ditanyakan jika dia habis berdandan. Baik didandani atau dia sendiri yang berdandan.

Apa yang harus saya lakukan untuk meninggikan gunung dalam minatnya ini? Melihat usianya yang bulan depan genap 5 tahun. Apakah minatnya ini baik buatnya? Apakah nanti pelarangan saya membuat dia tidak berani memiliki minat?

Terus berusaha menemukan kelebihannya yang lain.
Tetap semangat memberikan konsep diri yang benar kepada anak. Sehingga dia bisa menjadi dirinya sendiri bukan menjadi orang lain atau selalu bercermin pada orang lain.

Selalu berusaha agar anak-anak menemukan kekuatan dan kelebihan yang akan membuat mereka unik dengan segala apapun yang mereka miliki.

Dan sebagai orangtua, kami akan selalu mendukung apapun jika itu memang dinilai baik, baik olehnya, orang sekitar dan Allah sebagai yang punya dirinya.

Yuliana|7 Januari 2018

Jumat, 05 Januari 2018

AKU BUKAN ANAK KECIL LAGI

#Day2
#Tantangan10H
#level7
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga




Kenapa sih saya tidak suka abang Daffa maen games?
Apa karena saya memang tidak pernah suka bermain games?
Apa ini ada hubungannya dengan ketidaktahuan saya dengan keseruan sebuah games?
Apa karena saya tidak tahu bagaimana bermain games tersebut?

Saya memang tidak menyukai games?
Apalagi games komputer, hape atau apalah?
Bukan karena saya termasuk ortu zaman old. Namun karena saya tidak menemukan games yang bisa diterima secara syarii.

Inilah tantangan sebenarnya?
Hampir tidak saya temukan games yang syarii secara agama meski banyak games yang bernuasa religi dan sarat edukasi.

Namun saya mencoba berdamai. Saya coba terus mengikuti perkembangan abang Daffa di semua games yang dimainkannya. Dari cerita-cerita yang dia kisahkan. Mulai dari dia didaulat menjadi admin sebuah games online, terus level permainannya selalu naik peringkat, pengen selalu berkompetisi dengan lawan main onlinenya. Dan malah dia mengajukan diri mau ikut berkompetisi secara online di forum yang lebih besar. Dia sih tergiur dengan hadiah yang disediakan. Terus dia mulai masuk ke berbagai komunitas dan grup facebook dimana para gamer berkumpul. 
Dan sekarang dia malah minta diajarin bikin email baru khusus bisa maen secara online dan ikut ajang kompetisi. Bukan email yang saya buatkan yang selama ini digunakan sebagai email facebooknya dia.

Abang memang sudah punya akun facebook namun belum punya hape sendiri. Masih menggunakan hape saya yang tentu saja pakai paswood yang dia tidak bisa tebak lagi.
Meski dia sering ke warnet dan online. Dia belum berani membuka facebooknya di tempat tersebut . Katanya dia nga mau diliat teman-temannya.
Alhamdulillah dia masih tau kapan harus buka fecebook dengan aman.

Sejak kemaren, saya coba memberikan 30 menit waktu untuk bermain games dilaptop yang ternyata tidak semua gamesnya hilang/uninstal (ini anak memang selalu nemu aja). Tentu saja dengan catatan saat dia main adik-adiknya tidak melihatnya karena akan berdampak lebih luas jika adik-adiknya juga melihat kemudian ingin pula.

Saya pun mengamati abang Daffa yang sedang duduk didepan laptop yang sebenarnya sudah mau ‘dead’ karena keseringan mati tanpa sebab (maklumlah notebook tua).
Sambil main dia mulai menceritakan kesulitan yang dia hadapi untuk meraih level berikutnya.

Meski tidak sepenuhnya setuju. Namun saya berusaha mengamati dari NOL lagi hobby dan minat abang akan games ini.
Apa yang sebenarnya dia cari digames tersebut? games seperti apa yang membuatnya senang berlama-lama main? Apa yang disukainya dari sebuah games? Apakah dia hanya senang memainkan satu games saja atau senang berganti-ganti games?

Baiklah….. tantangan ini harus bisa kita jalani bersama. Sambil terus mengamati kemana arah dari semua hobbynya ini.

Seperti  dalam tantangan games level 7 ini yaitu mengamati anak-anak dalam 4 ranah ; ranah intrapesonal, ranah interpersonal, change factor dan spiritual.

Saya harus lebih peka terhadap segala kemungkinan dari setiap aktivitas mereka termasuk abang Daffa dalam keseharian yang akan menuju 4 E; enjoy, easy, execelent dan earn.

Dan ada kejadian siang ini, saat sepupunya sedang rame bermain dengan teman-teman lainnya di halaman rumah. Mereka sedang memainkan satu bonus permainan di dalam sebuah snack yang cukup terkenal.

Dan masing-masing mereka memperlihatkan koleksi permainan mereka. Permainan yang menjadi bonusnya adalah sebuah gasing kecil. Dan rupanya abang tidak tertarik sewaktu diajak main dan ditanya mengenai koleksinya.

Abangpun bilang, ‘aku kan bukan anak kecil lagi.’

Mendengar kalimat tersebut rasanya singkat sekali waktu bahwa dia sekarang sudah hampir baliqh. Usianya 2 bulan lagi genap 13 tahun.

Kesadaran akan dirinya sendiri sudah termasuk dalam ranah intrapersonal yaitu sadar akan nilai diri dan konsep diri.

Semoga itu bukan hanya kalimat dimulut saja namun sudah bisa dipahaminya bahwa dia sekarang sudah tambah besar dan harus bisa bertanggungjawab minimal pada dirinya sendiri.

Yuliana | 6 Januari 2018

AHAA....AKU SUKA GAMES

#Day1
#Tantangan10H
#level7
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga


AHAA…AKU SUKA GAMES

Bismillah
Semakin tinggi level belajarnya semakin menantang games diperkuliahan kelas bunsay IIP ini.

Saya mencoba mencerna materi yang telah disuguhkan meski saya sedang sakit dan anak-anak bergantian dalam minggu ini mengalami sakit pula.

Saya berusaha menjalani tantangan ini dengan segala keterbatasan yang tentu saja akan selalu ada nilai kebaikan disana jika saya menjalaninya dengan ikhlas.

Semua anak adalah bintang.

Tema yang sangat memantik saya untuk terus mencoba menggali kemampuan saya dalam mengamati, mempelajari, memacu dan memicu kekuatan pada anak-anak saya.

Dalam tantangan kali ini sempat bingung, anak yang mana kah yang akan fokus saya amati?

Si sulung sejak 3 tahun lalu sudah mulai digali kemampuan dan kekuatan dirinya.
Dan dari 4E yang pernah saya baca sebelumnya di beberapa postingan abah Rama dan dimateri ini pula, abang Daffa sudah mulai menuju level Earn kalo boleh dikatakan begitu.

Saya memang sudah fokus mengamati dan menggali abang sejak dia kelas 4 SD (waktu masih sekolah dulu).
Minatnya terhadap games begitu kuat. Meski saya selalu berusaha menghalang-halangi dengan berbagai cara;
menghukumnya tidak boleh maen games di rumah (sebelum kenal warnet),
membatasi jam maen games di laptop,
mengunci laptop karena sering kecolongan maen tanpa izin, menghapus semua games baik di hape saya dan dilaptop,
menyita laptopnya, dan lain sebagainya.


Namun semua itu tak pernah membuatnya kehilangan akal untuk bisa maen games. Dia bisa maen games di hape sepupunya, apalagi setelah abang berkenalan dengan warnet. Dia lebih sering ke warnet baik terang-terangan maupun diam-diam, baik punya atau tidak memiliki uang.
Saking senangnya sampai lupa waktu pulang. Dan tentu saja konsekuensi selalu dia terima namun tidak pernah bertahan lama selalu akhirnya balik lagi dan lagi.

Kesepakatan tentu saja selalu diucapkan  bahkan sampai ditulis didinding namun pelanggaran selalu kerap terjadi. Bukanya tidak konsisten dengan aturan sendiri. Namun kadang saya dilema disatu sisi ingin menegakkan aturan secara tegas tapi keterbatasan saya yang harus mengurus 2 bocah lainnya tanpa ayahnya karena beliau lebih banyak diluar kota sehingga saya merasa kurang punya power sama anak sendiri.

Ditambah saya juga masih bingung, apakah games ini adalah minatnya?
Saya pernah menantangnya untuk bikin games sendiri kemudian dia bisa menunjukkannya pada teman-temannya. Dan tantangan itu dipenuhinya. Dia searching di youtube cara membuat games sederhana dengan powerpoint dan dengan cepat abang menguasai tekniknya.
Dia berhasil ditantangan saya tersebut.

Kemudian saya juga menantangnya untuk bisa membuat sesuatu yang bisa menghasilkan uang dari hobby maen gamesnya. Dan dia pun menjawab tantangan saya dengan mencari sendiri kode-kode permainan kemudian menjual kode-kode tersebut ke teman-temannya.

Namun dikarenakan keyakinan saya mengenai games tersebut kurang baik dari segi agama. Sehingga saya sekarang tidak mendukungnya lagi.
Dan ini mungkin termasuk meratakan lembah seperti dalam materi level 7 ini.


Apakah saya mampu berdamai dan menemukan win-win solution dalam memaknai hobby abang daffa dan meninggikan gunungnya?

Semoga Allah akan menjawab doa kami.


Yuliana|5 januari 2018